SURABAYA: 23-33 °C (Berawan)
Jumat, 30/07/2010
Kurs USD 29/07/2010 19:00:54
jual: Rp 9.047,00 | Beli: Rp 8.957,00
Google suarasurabaya.net
userlogin:
Daftar Lupa Password?
Soerabaja Tempoe Doeloe

 

Blauran
    Topik terbaru :
  • Beking Resmi... [detil]
  • Menuju Lalu Lintas Yang Beradab... [detil]
  • Reply terbaru :
  • Sebaiknya Lain Kali Kalau Lagi Rapat Sekolah..bawa Digital Kamera Aja...ntar Di Publishkan Di
    Internet ..biar Pejabat Kita Pada Melek..inilah Pendidikan Indonesia Sesungguhnya... [detil]
  • Boss, Aku Lagi Nganggur Nih...coba Aja Aku Di Angkat Jadi Boss Nya Parkir Di Surabaya ..ntar Anda
    Anda Yang Jujur Dan Bermoral Baik Tak Kasih Wilayah Dech , Agar Warga Surabaya Yang Parkir Bisa Ada
    Ra... [detil]
  • Zainuddin, Surabaya Sebentar Lagi Kita Umat Muslim Akan Berjumpa Lagi Dengan Bulan Ramadhan. Mari Kita Persiapkan Diri K... [detil]
  • Ysbhakti, Surabaya Terima Kasih Bpk. Akbp Bahagia Dachi Plh Wakapolrestabes Sby Yang Menyatakan Perang Terhadap Penjamb... [detil]

Kampoeng Media
Alwari Kunjungi Kampoeng Media untuk Sosialisasi Dalam rangka sosialisasi pendirian Alwari (Aliansi Wartawan Radio Indonesia), Kamis (29/07), para pimpinan Alwari mengunjungi Kampoeng Media.
Sajian Kuliner
Sambal Maut Mak Yeye Ikan pari yang diasap, disajikan dengan sambal maut membuat banyak orang ketagihan.
Resensi Buku
Suara Surabaya Bukan Radio Keberadaan SS sangat fenomenal. SS pada titik awal contoh sukses industri radio. Buku Suara Surabaya Bukan Radio menuliskan semangat perjalanan itu.
Jaring Radio
Tahun 2010 Dishutbun Hijaukan 3.000 Ha Lahan Kritis Program Pemkab Bojonegoro untuk penuntasan lahan kritis terus berjalan, tahun ini sekitar 3.000 hektar lahan kembali dihijaukan.

  Search
Google
 
 

Kelana Kota

27 November 2009, 16:53:33| Laporan Iping Supingah

Perjalanan ke Hong Hong (bagian 4)

Kampung Nelayan Cheung Chau, Bersih Tidak Bau Amis

suarasurabaya.net| Kapal feri baru saja merapat di dermaga. Kapal-kapal nelayan terlihat berjajar rapi di pinggir pantai. Bau masakan berbahan ikan pun mulai menyergap diantara restoran dan cafe tenda di perkampungan padat penduduk itu.

Perkampungan yang tertata apik ini adalah perkampungan Cheung Chau. Penduduk asli Cheng Chau sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan.

Di sekitar dermaga, ketika siang hari tampak air laut yang membiru, namun saat menyambut senja mulai terlihat ratusan kapal nelayan yang ditambatkan di sepanjang bibir dermaga.

Sementara para pendatang dari Hong Kong yang memilih tinggal di Cheung Chau mereka tetap kerja berbagai profesi di Hong Kong. Mereka memilih ke wilayah pinggiran ini karena sewa rumah yang relatif lebih murah dibanding di pusat kota di Hong Kong. Jika di Cheung Chau rumah dua kamar tarifnya berkisar HK$4.000 (Rp4 juta lebih) per bulan, tapi di pusat kota bisa 4 kali lipatnya atau sekitar Rp16 juta lebih per bulannya.

Meskipun disebut kampung nelayan, Cheung Chau tergolong bersih dan tertib. Larangan merokok dan buang sampah di sembarang tempat juga dipatuhi. Nyaris tidak tercium bau amis ikan layaknya kampung-kampung nelayan di Jawa Timur yang terkesan kumuh.

Puluhan restoran dengan tenda terbuka di tepi dermaga, pelayannya menawarkan berbagai menu seafood kepada wisatawan yang lalu lalang di depannya. Berbagai ikan laut segar dan replikanya serta dilengkapi harga per onsnya turut dipajang di depan restoran itu. Aneka seafood yang siap disantap di Cheung Chau ini ditawarkan dari HK$ 158 hingga 318 per porsi.

Memasuki kampung nelayan Cheung Chau di sebuah pulau kecil di Hongkong ini sungguh berbeda dengan kampung nelayan di sejumlah daerah di Jawa Timur. Bau anyir ikan tidak menyengat. Bau sedap masakan seafood justru yang menusuk hidung.

WILLIE FUNG pemandu wisata dari Hong Kong Tourism Board (HKTB) yang mendampingi reporter suarasurabaya.net beserta 14 jurnalis dari Surabaya dan Jakarta ke pulau ini pada 18 Nopember lalu menyebutkan bahwa Cheng Chau merupakan satu diantara obyek wisata andalan di Hong Kong.

Para jurnalis dari Surabaya dan Jakarta diundang HKTB pada 16-19 Nopember 2009. Rombongan terbang ke Hong Kong menggunakan Cathay Pacific Arways untuk menikmati sejumlah obyek wisata andalan negeri bekas koloni Inggris ini.

Satu diantara obyek wisata yang dikunjungi adalah Pulau Cheng Chau. Untuk menuju pulau yang dihuni sekitar 40 ribu orang ini tidak ada jalan lain kecuali harus naik kapal feri terlebih dulu. Tiket naik feri biasa (bukan feri cepat) dari Central Ferry Pier tarifnya HK$ 18 (HK$ 1 = Rp 1.230,-) untuk kelas bisnis, dan HK$11,5 untuk kelas ekonomi.

Waktu tempuh Central Ferry Pier ke Cheng Chau sekitar 55 menit. Namun, jika naik feri cepat hanya sekitar 30 menit, tentu tarifnya berbeda, lebih mahal HK$ 4, karena tempat duduknya juga lebih empuk dan membuat penumpangnya cepat terlelap.

Turun dari feri, sejauh mata memandang langsung melihat orang lalu lalang berjalan kaki dan sepeda kayuh serta beberapa becak.

Di Cheng Chau mobil memang tidak diperbolehkan memasuki wiayah ini kecuali mobil polisi, ambulan dan mobil pemadam kebakaran. Sarana tranportasi hanya sepeda kayuh dan becak yang bentuknya berbeda dengan yang ada di Surabaya. Jika wisatawan ingin memanfaatkannya bisa menyewa dengan tarif HK$ 10 per jam untuk sepeda kayuh (pancal) dan HK$ 30 per jam untuk becak.

Cheung Chau Market

Di Cheung Chau, berhadapan dengan dermaga atau waterfront telah berjajar toko-toko penjual pakaian, souvenir, makanan, juga sederet restoran dan bar. Namun jika kita ingin tahu sebagian isi pulau ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja.

Di sini dapat ditemui bangunan paling tinggi rata-rata bertingkat 3 sebagai tempat tinggal penduduk, yang di saat tertentu juga disewakan kepada wisatawan.

Setelah melewati gang-gang rumah penduduk, akan ditemui Cheung Chau Market. Segala macam ikan, sayuran, dan buah-buahan dijual di sini. Selain itu, berbagai camilan serta stand-stand penjual pakaian juga ada di komplek pasar ini.

Jika bisa kita membandingkan, Cheung Chau Market mirip pasar tradisional DTC Wonokromo, tapi lebih bersih dan tersedia eskalator untuk naik turun bangunan 2 lantai ini.

Keluar dari bangunan Cheung Chau Market dan melangkahkan kaki lebih jauh ke dalam pulau ini, bisa ditemui Pantai Tung Wan. Pemandangan pantai dengan hamparan pasir termasuk pemandangan langka di Hong Kong. Karena kebanyakan laut langsung berbatasan dengan batu karang dan tebing.

Saat cuaca cerah, utamanya pada musim panas, pantai ini banyak dimanfaatkan untuk berenang dan berjemur. Di tempat itu ada layanan penjaga pantai serta ruang ganti pakaian dan kamar mandi.

Tapi, saat musim dingin, tidak satu pun terlihat orang yang berenang dan bermain di pantai ini. Angin laut yang bertiup cukup kencang dan terasa dingin. Bahkan suhu udara saat suarasurabaya.net berada di pantai Tung Wan ini berkisar 12 derajat Celcius.

Pulau Kecil Tapi Lengkap

Pulau Cheung Chau cukup menarik. Meski pulau ini tergolong kecil hanya seluas 2,45 km persegi, tapi fasilitas yang disediakan pemerintah cukup lengkap.

Fasilitas yang tersedia di pulau itu diantaranya sekolah, lapangan olahraga, panti jompo, pasar, alun-alun, perpustakaan umum, serta tempat ibadah. Hotel dan tempat penginapan juga tersedia untuk para wisatawan.

Tempat ini ramai ketika ada Bun Festival. Puluhan ribu wisatawan lokal dan luar negeri datang ke pulau ini sekitar bulan Mei bersamaan dengan perayaan lokal Buddha's Birthday yang di dalamnya terdapat rangkaian kegiatan Bun Festival.

Di arena olahraga depan Pak Tai Temple menjadi pusat Bun Festival. Di tempat itu dibangun tiga Bun Towers setinggi 60 kaki. Saat ini tower atau menara itu terbuat dari baja. Konon, dulunya dari bambu yang di sekelilingnya ditutupi dengan bakpao. Penduduk setempat berlomba menaiki menara untuk memperoleh roti (bakpao), semakin tinggi roti dianggap keberuntungan yang lebih baik buat keluarga pemanjat tower itu.

Namun, selama perlombaan pada 1978 satu diantara menara roboh, melukai lebih dari 100 orang. Setelah kejadian itu perlombaan ini ditiadakan. Kemudian pada tahun 2005, Bun Festival ini dihidupkan kembali, tapi tidak semua orang diperbolehkan memanjat berbarengan, tapi setiap tower dibatasi 12 orang yang memang atlet terlatih memanjat.

Pada Februari 2007, terjadi juga modifikasi, yang sebelumnya roti yang dipasang benar-benar bakpao, kemudian diganti dengan bakpao replika terbuat dari bahan plastik.

Bun Festival ini kata WILLIE FUNG pemandu wisata dari Hong Kong Tourism Board (HKTB) memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Sehingga tidak heran ribuan wisatawan memadati pulau ini sejak seminggu menjelang Bun Festival digelar.

Mungkinkah Surabaya yang memiliki pantai Kenjeran membuat kampung nelayan seperti Cheung Chau? (ipg)

Teks Foto::
1. Jalan utama di kampung nelayan Cheung Chau yang berhadapan dengan dermaga feri, bersih tidak ada sampah di jalanan.
2. Berbagai menu seafood yang ditawarkan di sejumlah restoran yang berjajar di sepanjang jalan utama.
3. Segala macam ikan segar dan olahan tersedia di Cheung Chau Market. Tampak pembeli sedang bertransaksi.
4. Pantai Tung Wan saat musim dingin sepi pengunjung, kondisi ini jauh berbeda ketika musim panas berjamur orang berenang dan berjemur.
5. Lapangan olahraga yang berlatar belakang bangunan Pak Tai Temple. Di lapangan ini biasanya digelar Bun Festival.
Foto: IPING suarasurabaya.net

Share on Facebook


Berita terkait :
1. Perjalanan ke Hong Kong (bagian 1)
Berjalan Kaki Irama Cepat di Hong Kong
2. Perjalanan ke Hong Hong (bagian 3)
Larangan Merokok di Hong Kong Dipatuhi, di Surabaya?
3. Perjalanan ke Hong Kong (bagian 2)
Angkutan Umum Banyak Peminat, Murah dan Nyaman
4. Nyamannya Menyeberang di Zebra Cross di Hong Kong


 



 

Home | Radio Online | Radio On Demand | Video Streaming | Kelana Kota | Politik | Ekonomi Bisnis | Olahraga | Info Teknologi |
Potret Kelana Kota | Peta Surabaya | Titik Nol | 27th Suara Surabaya | Oase Ramadhan | Opini | Konsultasi Kesehatan | SS Media | Faq | Kontak

 

© copyright suarasurabaya.net 2008, All Rights Reserved.