KELANA KOTA
Pelajaran dari Laka Anggota DPR di Tol Porong

Pengamat : Perhatikan Turbulensi Udara di Jalan Tol

Laporan Eddy Prastyo | Senin, 24 September 2012 | 12:48 WIB
suarasurabaya.net - Kecelakaan lalu lintas di jalan tol KM 29.400 Porong arah Surabaya mengakibatkan Theodorus Jacob Koekerits anggota Komisi I dan anggota Badan Anggaran DPR RI dari Fraksi PDIP meninggal dunia. Dari keterangan polisi disimpulkan sementara Wahyu Wigoro warga Desa Gelik Brondot, Jombang pengemudi Nissan patrol B 15 VY yang membawa sang anggota dewan, cukup nekad bermanuver saat tidak ada ruang gerak yang cukup.

Dari hasil olah TKP di lapangan, diketahui bahwa mobil Nissan Patrol ini berinisiatif ambil jalur kiri. Waktu itu di depannya, juga di lajur kanan pada jarak yang agak jauh, ada mobil Avanza. Sopir Nissan membantah hendak menyalip Avanza itu dari lajur kiri.

Sedangkan di lajur kiri ada mobil truk pengangkut pasir yang berjalan dengan kecepatan di bawah 60 km perjam. Wahyu diduga kaget mengetahui truk di lajur kiri berjalan sangat lamban. Diduga polisi, Wahyu juga sempat menginjak rem cukup dalam sampai mengakibatkan ban kiri depannya pecah. Tapi upaya ini gagal, tubuh mobil tetap menabrak truk yang ukurannya lebih besar.

I Komang Ferry instruktur Darma Safety Drive pada suarasurabaya.net mengatakan ada faktor turbulensi udara di jalan tol yang kerap diabaikan pengemudi. Laju kendaraan di jalan tol yang kecepatannya rata-rata di atas 60 km perjam, kata Komang, menimbulkan gaya udara di sekitar mobil. Semakin aerodinamis bentuk mobil, gaya udara itu semakin kecil. Tapi semakin besar kendaraan, maka gaya udara yang melewati sekitar mobil juga akan semakin besar.

"Contoh yang mudah, coba saat anda berpapasan dengan kendaraan besar dari arah sebaliknya waktu kecepatan tinggi. Mobil anda akan oleng terkena anginnya. Itulah turbulensi udara," kata dia.

Turbulensi udara juga terjadi pada kendaraan yang melaju pada arah yang sama dengan kendaraan lain. Jika jarak aman tidak diperhitungkan, keputusan menyalip atau mengambil jalur bisa jadi celaka jika kendaraan kita terkena turbulensi tanpa kita bisa mengendalikan setir kendaraan.

"Dalam kecepatan tinggi, turbulensi udara dari kendaraan lain bisa mempengaruhi kendali mobil kita. Contoh kasusnya adalah kecelakaan mobil Syaiful Jamil. Mobil itu terkena turbulensi kendaraan lain, dan pengemudinya tidak mampu menguasai setir kendaraannya dalam sepersekian detik, dan akhirnya terjadilah kecelakaan itu," kata Komang.

Agar terhindar dari kecelakaan, kata Komang Ferry, sangat penting untuk memperhatikan jarak aman kendaraan, perhitungan yang tepat saat bermanuver, dan fokus pada kegiatan mengemudi.(edy)

Teks Foto :
- Mobil anggota DPR RI yang jadi korban laka di tol Porong arah Surabaya
Foto : Istimewa


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.