KELANA KOTA

Kontroversi di Balik Pengunduran Diri Paus Benediktus XVI

Laporan Eddy Prastyo | Selasa, 12 Februari 2013 | 13:39 WIB
suarasurabaya.net - Paus Benediktus XVI menjadi Paus pertama yang mengundurkan diri dari tahta suci dalam enam abad terakhir. Pengunduran diri ini ditulis Wall Street Journal menandai transisi menuju pembaruan teologis dan internal Gereja Katolik menghadapi tantangan di abad mendatang.

Pengumuman Paus berusia 85 tahun itu seakan menyentak dunia Barat. Saat dunia makin larut dalam sekularisme dan sikap skeptis terhadap agama, Gereja Katolik kini punya tugas berat menyebarkan teologinya ke dunia yang tengah berkembang cepat.

Pada pidatonya dalam bahasa Latin, Paus yang punya nama asli Joseph Ratzinger ini memutuskan mundur karena dirinya tidak lagi memiliki vitalitas untuk melakukan tugasnya. Keputusan itu sebelumnya hanya ia sampaikan ke dua Kardinal Inti di Vatikan, dan kemudian diumumkan ke seluruh dunia.

"Kesetiaannya menjaga kebenaran iman Katolik, menjaga dialog antar iman telah menjadi inspirasi dan warisan buat kita semua," kata Sean Patrick O'Malley Kardinal Boston.

Mundurnya Paus Benediktus XVI yang memimipin lebih dari 1 miliar umat Katolik di seluruh dunia disayangkan banyak pihak. Dalam atmosfer ajaran Katolik yang doktrinal, Paus Benediktus XVI sering membuat terobosan baru, bahkan melawan tradisi Vatikan. Diantaranya adalah memberi jalan pada Gereja Anglikan ke Vatikan. Gebrakan lainnya baru saja dia lakukan, yakni berkomunikasi lewat jejaring sosial Twitter, meskipun hanya sesaat. Paus yang memimpin Vatikan sejak 2005 ini mau membuka diri, menyentuh umatnya lewat sosial media dan mengirimkan pesan keimanan Katolik lewat Twitter.

Paus Benediktus XVI juga bereaksi atas kasus pelecehan seksual yang dilakukan seorang Pastur di gereja Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Beberapa Uskup bahkan dipecat karena keterlibatannya.

Kendati banyak melakukan terobosan, kepemimpinannya di Tahta Suci Vatikan tidak luput dari kritik. Misalnya, dia tidak berkomentar tentang maraknya kasus pelecehan seksual di Amerika Serikat dan Eropa yang menghabiskan dana ratusan juta dollar AS untuk ganti rugi para korban. Ini juga merusak citra Gereja Katolik di seluruh dunia.

Kardinal Julián Herranz mengatakan Paus Benediktus XVI adalah pimpinan Tahta Suci Vatikan yang tidak menghindar dari masalah-masalah pelik tersebut. "Beberapa orang menggambarkannya sebagai intelektual yang metafisik. Kenyataannya tidak ! Dia memimpin dengan tanggung jawab moral," bela dia.

Dalam pidatonya kemarin dia mengakui kekuatan fisiknya yang melemah dan itu disadarinya sebagai ketidakmampuan dirinya. "Setelah mundur, beliau akan kembali ke biara. Aktivitas kesehariannya akan diisi dengan berdoa dan menulis," kata jur bicara Vatikan.

Untuk diketahui, pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II juga mengalami kendala fisik. Dia menderita sindrom Parkinson. Pada tahun 2010, Paus Benediktus XVI pernah menyampaikan bahwa pimpinan Gereja Katolik punya kewenangan untuk mengundurkan diri jika ia tidak mampu.

Sejumlah pengamat di media Amerika Serikat dan Eropa mundurnya Paus Benediktus XVI ini karena gagal menemukan solusi yang definitif untuk sejumlah kasus serius yang mendera Gereja Katolik beberapa tahun terakhir. Paus telah mengetatkan aturan Vatikan untuk mendisiplinkan Pastur-pastur yang bertindak di luar etika. Dia juga mengeluarkan prosedur untuk penanganan laporan dugaan pelecehan seksual oleh para Pastur, bertemu dengan korban-korban pelecehan. Tapi dia tidak memaksa Gereja di bawah pimpinannya untuk melaporkan kasus itu ke polisi sebagai tindak pidana.

"Beliau hanya melakukan 'langkah-langkah kecil' yang tidak signifikan untuk menangani krisis ini," kata Kristine Ward Ketua Koalisi Advokat Survivor Nasional, kelompok dukungan bagi korban pelecehan seksual kalangan Gereja.

Lepas dari kontroversi yang melanda Gereja Katolik Vatikan belakangan, sejumlah pengamat menilai tantangan ke depan adalah mencegah meredupnya pengaruh Gereja Katolik di tanah Eropa, yang nota bene adalah tempat kelahiran Gereja Katolik. Sedangkan di sisi lain, Katolik sangat berkembang di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

"Gereja Katolik butuh penginjil," kata Kardinal Herranz. Lalu siapa pengganti Paus Benediktus XVI? Hingga kini masih belum ada tanda-tanda siapa yang bakal menggantikannya.

Teks Foto :
- Paus Benediktus XVI
Foto : zerohedge.com


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.