KELANA KOTA

Masih Anak-Anak, Para Tersangka Pencabulan Ini Dijerat Pasal Berlapis

Laporan Bruriy Susanto | Kamis, 12 Januari 2017 | 15:52 WIB
Ilustrasi. Foto: The Express Tribune
suarasurabaya.net - Kasus pencabulan yang dilakukan delapan tersangka jalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Surabaya, secara tertutup. Para tersangka ini di sidang di ruang sidang anak, karena masih anak-anak dan statusnya pelajar SD sampai SMP.

Mereka melakukan pencabulan pada tetangganya sendiri di shelter Kereta Api Jalan Ngagel.

Agenda sidang yang digelar hari ini, Kamis (12/1/2017) adalah pembacaan surat dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Surabaya, terhadap delapan terdakwa, MH, IL, AF, MS, YS, BG, AT, dan LRP. Dalam surat dakwaan itu, kedelapan terdakwa dijerat pasal berlapis.

Wilhelmina Manuhutu JPU dari Kejaksaan Negeri Surabaya menjelaskan, pencabulan yang terjadi pada bulan April tahun 2016 itu berawal dari AT yang mengajak korban ASS, ke Stasiun Kereta Api Jalan Ngagel Surabaya.

Kemudian menuju ke sebuah terowongan, ternyata ditempat itu sudah ada MH, IL, AF, MS, YS, BG, dan LRP. Saat berada di terowongan, AT memaksa korban berhubungan intim beramai-ramai dengan teman-teman lainnya, MH, IL, AF, MS, YS, BG, dan LRP.

"Mereka berbagi peran, ada terdakwa yang berperan memegang tangan dan kaki korban, ada juga lainnya," kata Wilhelmina Manuhutu JPU dari Kejaksaan Negeri Surabaya.

Selesai dicabuli, korban yakni ASS langsung pulang sendiri dan tidak diantar oleh para terdakwa.

Kasus ini baru terungkap, pada waktu korban bercerita pada orang tuanya sakit saat buang air. Dari keterangan itulah, akhirnya diketahui kalau ASS jadi korban pencabulan yang dilakukan delapan tersangka, yang masih anak-anak.

JPU menerapkan Undang undang Perlindungan Anak, dan menjerat para terdakwa dengan pasal berlapis.

"Sebagaimana diatur dalam pidana pasal 76 E Undang-undang RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak Junto pasal 81 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 35 tahun 2014 juncto pasal 55 ayat (1) ke 1 KUH Pidana," ujar dia. (bry/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.