KELANA KOTA

Konjen Jepang Ajak Gus Ipul Memasak Makanan Dewa

Laporan Fatkhurohman Taufik | Jumat, 17 Februari 2017 | 19:34 WIB
Gus Ipul bersama Yashiharo Kato (kiri), Kunsulat Jenderal Jepang di Surabaya; serta Chef Ken saat memasak di kediaman Konjen Jepang, Jumat (17/2/2017). Foto : Taufik suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Dalam rangka Japan Weeks 2017, Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, Jumat (17/2/2017) menggajak Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Wakil Gubernur Jawa Timur untuk mencicipi dua masakan dewa yang satu di antaranya bahkan baru pertama ini dimasak dan bisa dinikmati di Surabaya.

Masak makanan khas Jepang kali ini sengaja digelar di kediaman Konjen Jepang yang ada di kawasan Dharmahusada, Surabaya. Chef asal Kanazawa bernama Masato Tsuki juga didatangkan untuk memasak dua menu yaitu tempura udang serta ehomaki.

Untuk tempura udang mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat, namun untuk ehomaki merupakan makanan yang baru kali ini diperkenalkan dan dimasak langsung di Surabaya. "Makanan ini baru pertama kalinya saya sajikan dan pertunjukkan secara langsung didepan orang Indonesia, makanan ini hampir sama seperti sushi namun ini beda isinya ada 7 makanan kesukaan dewa," kata Yashiharo Kato, Kunsulat Jenderal Jepang di Surabaya.

Ehomaki sendiri merupakan makanan berbentuk sushi namun makanan ini memilik filosofi yakni semua bahan didalamnya merupakan makanan kesukaan dewa dan dianggap memiliki kepercayaan membawa keberuntungan.

Sebanyak 7 isi yang ada di dalam ehomaki dan dipercaya memiliki keberuntugan diantaranya adalah jamur shiitake, kanpyo, timun, tamagoyaki atau telur gulung, belut, sakura dembu bubuk ikan dan digulung dengan nasi khas Jepang dan nori atau rumput laut kering.

Menurut Yashiharo, makanan ini sangat khas karena memenuhi tiga unsur wajib masakan Jepang yaitu enak dimulut, kemudian cantik dilihat dan ketika digigit berbunyi renyah sehingga bisa memanjakan telinga. "Makanan yang enak itu jika bisa memanjakan mulut, mata dan telinga," kata dia.

Menurut adat Jepang, untuk memakan ehomaki juga tidak bisa sembarangan melainkan harus sekali telan dan tidak boleh dipotong-potong. Selain itu, Ehomaki juga harus dimakan dengan menghadap ke arah barat agak condong ke utara.

Sementara itu, saat peragaan memasak, Gus Ipul juga sempat mencoba untuk ikut mengaduk dan menggoreng tempura udang. "Ini kehormatan karena saya diajak langsung merasakan sensasi memasak dan menikmati menu khas Jepang yang baru pertama ini disajikan di Indonesia," kata Gus Ipul.

Gus Ipul mengatakan, memasak merupakan hal yang menyenangkan dan menggembirakan karena masak saat ini telah menjadi sebuah gaya hidup bagi masyarakat modern.

"Saya diajak memasak Tempura khas Jepang, ya seneng. Karena masak sekarang menjadi salah satu gaya hidup. Meskipun saya ngga bisa masak tapi ternyata anak saya ada yang suka masak nah itu inovasi. Karena ortu saya dulu suka masak jatuh ke anaknya ngga bisa masak, bisanya cuma disiapkan dan tinggal makan eh turun ke anak saya malah seperti neneknya suka masak," kata Gus Ipul.

Lebih lanjut, Gus Ipul mengatakan jika masakan khas Indonesia sebenarnya juga tidak kalah jika dibandingkan masakan Jepang. Sayangnya kurangnya inovasi menjadikan masakan Indonesia masih belum bisa sepopuler masakan Jepang.

Jika di berbagai negara restoran khas Jepang banyak diminati, namun masakan Indonesia yang ada di berbagai negara ternyata peminatnya kebanyakan adalah masyarakat Indonesia sendiri yang ada di negara itu.

"Harusnya dilakukan inovasi, seperti saya pernah ke New York ada restoran soto namanya Soto Nyono yang dimiliki warga Malang dan nikah dengan orang Amerika. Itu sotonya ya beda dengan di Indonesia, akhirnya maju dan laris juga. Tapi ada juga di New York ada restoran Padang, namun masakannya seperti di Indonesia akhirnya yang beli ya orang-orang Indonesia saja," ujarnya.

Acara ini juga dihadiri beberapa perwakilan Konsulat Jenderal Jepang yang ada di Indonesia, serta Chef Ken jebolan "Master Chef"; serta Abdul Halim Iskandar, Ketua DPRD Jawa Timur. (fik/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA