KELANA KOTA

Luhut: Kapal Pesiar Pembuat Kerusakan Raja Ampat Harus Bertanggungjawab

Laporan Fatkhurohman Taufik | Senin, 20 Maret 2017 | 21:56 WIB
Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman di Terminal Teluk Lamong, Senin (20/3/2017). Foto: Taufik suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman memastikan tim investigasi terpadu bentukan pemerintah hingga saat ini masih menyelidiki kerusakan terumbu karang yang terjadi di Raja Ampat, Papua Barat, akibat kandasnya kapal pesiar MV Caledonian Sky di perairan itu.

"Saya tadi jam 12 sudah menerima laporan, tim investigasi terpadu masih bekerja menyelidiki kerusakan, ditambah tim asuransi yang juga turut hadir mengambil data di lapangan. Kami masih menunggu beberapa hari ke depan hasilnya," kata Luhut ketika ditemui di Terminal Teluk Lamong, Senin (20/3/2017).

Menurut Luhut pemerintah akan secara tegas mengambil langkah hukum apabila kapal pesiar tersebut dinyatakan bersalah.

"Soal kerugian, kami belum hitung. Tapi juga harus instrospeksi kenapa kapal itu bisa lepas. Jadi pemerintah akan memperkuat peraturan karena (Raja Ampat) adalah daerah tujuan wisata yang terumbu karangnya jenis langka di dunia," katanya.

Sekadar diketahui, Kapal Caledonian Sky yang dinahkodai Kapten Keith Michael Taylor pada 4 Maret 2017 kandas dan menimbulkan kerusakan terumbu karang di Raja Ampat.

Menurut hasil investigasi awal pemerintah setempat, luas terumbu karang yang rusak mencapai sekitar 1.600 meter persegi.

Kronologinya, kapal yang membawa 102 turis dan 79 anak buah kapal (ABK) memasuki kawasan Raja Ampat pada 3 Maret 2017 untuk mengamati pemandangan alam, keanekaragaman hayati, serta menikmati pementasan seni.

Namun setelah para penumpang kembali ke kapal pada siang harinya dan akan melanjutkan perjalanan ke Bitung sebelum tujuan akhir ke Filipina, kapal itu kandas di atas sekumpulan terumbu karang di Raja Ampat pada pukul 12.41 Waktu Indonesia Timur.

Berdasarkan catatan resmi pemerintah RI, Kapten Keith Michael Taylor hanya merujuk pada petunjuk GPS dan radar tanpa mempertimbangkan faktor gelombang alam dan kondisi alam lainnya. (fik/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA