KELANA KOTA

Ustadz Fikri: Tidak Cukup dengan Semangat, Mubaligh Harus Banyak Belajar

Laporan Jose Asmanu | Jumat, 13 Oktober 2017 | 11:11 WIB
Ustad Fikri Haekal Zainuddin mubaligh muda, alumni Ponpes Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Foto:Jose suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Jangan apriori dengan lahirnya mubaligh muda. Fenomena ini harus dilihat dari segi positifnya, menandakan adanya semangat atau gairah dari kalangan muda untuk berdakwa.

Hal ini disampaikan Ustad Fikri Haekal Zainuddin mubaligh muda, alumni Ponpes Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur dalam wawancara dengan suarasurabaya.net di Jakarta.

Putra almarhum ustadz Zainuddin MZ dai sejuta umat itu mengapresiasi semangat para dai muda yang muncul dari bermacam latar belakang.

Tidak masalah mubaligh muda itu berangkat dari seorang artis sinetron, penyanyi maupun komedian seperti Komar. Karena mereka memiliki semangat menyampaikan pelajaran tentang kebenaran walaupun hanya satu ayat dan memiliki kemauan untuk belajar.

Karena Fikri mengajak para mubaligh muda terus menggali dan memperdalam ilmu agama melalui Al Quran dan hadis, kitab para ulama dan dari berbagai disiplin ilmu.

"Dengan tujuan untuk mengimbangi semangat dan gairah berdakwa supaya bisa menjawab semua persoalan, tidak seperti bangun tidur, mati lampu, grapa grepe," ujar Fikri.

Berbeda dengan yang sudah mempersiapkan dengan disiplin ilmu yang mumpuni akan enak jalannya.

Menurut Fikri, Islam yang disampaikan harus disiapkan dengan berbagai macam ilmu pengetahuan.

Tidak usah menunggu lima atau sepuluh tahun lagi, zaman sekarang saja kalau ilmu pengetahuannya cekak tidak update akan dilindas oleh yang lain.

Karena itu Fikri mengajak para mubalig muda pasang niat bukan hanya sebagai seorang pendakwah tapi sebagai umat Islam pada umumnya, jangan sampai tertinggal dengan perkembangan ilmu pengetahuan. "Update terus wawasan kita setiap hari, supaya kita tidak tergilas dengan yang lain," pesan Fikri.

Mubaligh muda yang agendanya cukup padat disebut-sebut sebagai duplikat dai sejuta umat almarhum Zainudin MZ.

Dari penampilan maupun dalam merangkai kata-kata waktu berdakwah. (jos/dwi/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.