KELANA KOTA

Eksplorasi Keragaman Musik Bambu di Festival Musik Bambu Jatim 2017

Laporan J. Totok Sumarno | Senin, 23 Oktober 2017 | 19:54 WIB
Kelompok musik bambu warga masyarakat Samin dari Bojonegoro di Festival Musik Bambu Jawa Timur 2017. Foto: Totok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Mengeksplorasi kekayaan dan keberagaman musik tradisi Jawa Timur, khususnya yang menggunakan bambu sebagai alat musik, Senin (23/10/2017) digelar di Hotel Bumi Surabaya dalam Festival Musik Bambu Jawa Timur 2017.

Dari Tuban, Banyuwangi, Madura, Kediri, Probolinggo kelompok musik tradisional ini hadir dan ingin menunjukkan keberadaan mereka yang masih eksis hingga hari ini. Dengan menggunakan hampir alat musik hampir seluruhnya terbuat dari bambu, para pengrawit ingin menyampaikan bahwa musik bambu masih ada.

"Masyarakat kita memang tidak banyak mendengar apalagi menyaksikan penampilan musik bambu. Ini menggelitik kami sebagai penyelenggara untuk menggelar festival, sekaligus kami gunakan sebagai sarana mengeksplorasi keberadaan musik bambu yang tersebar disejumlah kota di Jawa Timur," terang Taufik Hidayat Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) sebagai penyelengara.

Angklung Paglak dari Banyuwangi dicontohkan Taufik merupakan kesenian musik bambu yang keberadaannya memang sudah dikenal sejak lama ada. "Tapi masyarakat Banyuwangi sendiri beberapa diantaranya tidak pernah menyaksikan. Ini ironi sekali," kata Taufik.

Pada kesempatan festival ini, Taufik berharap nantinya masyarakat akan melihat keberadaan Angklung Paglak dan ikut melestarikannya sebagai kekayaan sekaligus kearifan lokal yang tiada duanya dan harus dijaga.

"Kalau masyarakatnya paham dengan kekayaannya sendiri, seperti kekayaan budaya dan tradisi seni yang memang tidak sedikit jumlahnya di negeri ini, akan terjaga. Kekayaan seni dan tradisi ini memang sangat luar biasa perlu dilestarikan," tegas Taufik.

Sementara itu disampaikan Tri Broto S., pengamat budaya yang juga koreografer tersebut bahwa keberadaan seni tradisi bisa menjadi warisan yang tidak ternilai harganya bagi generasi muda bangsa. Festival musik bambu adalah gerakan yang patut diapresiasi.

"Pemerintah provinsi Jawa timur memberikan kesempatan bagi kita untuk mengeksplorasi seni musik tradisi yaitu bambu. Ini sangat berharga bagi generasi muda. Karena seni ttradisi itu tidak ternilai harganya. Ini patut diapresiasi," ujar Tri Broto.

Festival Musik Bambu Jawa Timur 2017 digelar di teras kebun Hotel Bumi Surabaya, dengan menghadirkan kelompok musik tradisional yang hampir seluruhnya menggunakan perangkat musik dari bambu.(tok/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA