KELANA KOTA

Psikolog: Ancaman Bunuh Diri Bisa Menyerang Siapa Saja

Laporan Anggi Widya Permani | Sabtu, 16 Desember 2017 | 18:35 WIB
Ilustrasi. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Seorang remaja berinisial AP (17) warga Jalan Juwingan, Gubeng Surabaya yang ditemukan gantung diri di rumahnya Sabtu (15/12/2017), diduga karena tekanan psikologis. Rasa mudah putus asa dan tidak kuat menghadapi masalah yang dirasakan seseorang, bisa mengakibatkan depresi.

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi depresi dan terpuruk. Depresi bisa menjadi salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri.

Astrid Wiratna Ketua Ikatan Psikolog Klinis Jawa Timur mengatakan, bunuh diri dikaitkan dengan kondisi mental psikologis seseorang yang mengalami yang gangguan depresi, kehilangan arah atau merasa tertekan karena suatu persoalan.

Menurutnya, kasus bunuh diri bukan hanya terjadi pada generasi muda atau mereka yang masih berusia muda. Tetapi ancaman tersebut bisa menyerang siapa pun dan usia berapa pun.

"Kalau bunuh diri, anak kecil pun juga bisa. Sebenarnya, orang yang bunuh diri itu orang yang kasihan, dia tidak punya orang yang mengajaknya ngobrol atau keluar dari permasalahannya. Bukan karena usia remajanya, tapi karena tekanan yang dia terima. Biasanya orang yang mau melakukan bunuh diri itu tidak pernah langsung. Dia ngomong dulu ke kiri kanan istilahnya crying for help minta tolong berkali- kali tapi tidak ada yang menolongnya, ya dia putus asa dan bunuh diri" kata dia.

Menurut Astrid, saat depresi, seseorang bisa mempunyai pemikiran yang salah dalam berpikir seperti menyalahkan diri sendiri atas ketidakberuntungan. Sehingga individu yang mengalami depresi cenderung menganggap bahwa dirinya tidak bisa mengendalikan lingkungan dan kondisi dirinya. Ditambah dengan perasaan kesepian atau ketidakmampuan bersosialisasi, membuat putus asa dan nekat bunuh diri.

Pasca kejadian bunuh diri tersebut, Astrid mengimbau kepada masyarakat khususnya peran orang tua dalam mendidik anak. Astrid mengatakan segala bentuk yang bersifat menekan dan membuat seseorang tidak bisa keluar dari masalah, bisa berpotensi untuk seseorang melakukan bunuh diri.

"Jangan terlalu keras dengan anak, harus realistis. Anak itu mesti diikutin maunya, bukan orang tua yang memaksakan kehendaknya. Karena setiap orang lain keinginannya, lain batasnya, lain juga kebutuhannya. Jadi apa yang diinginkan anak mestinya diikutin, bukan kita paksa harus begini begitu. Kerasnya orang tua itu bisa berdampak hebat pada anak karena dia bisa merasa tertekan dan tidak punya jalan keluar. Jadi dia menganggap, jalan keluar terakhirnya dengan bunuh diri," kata dia.

Astrid berharap orang tua bisa menjadi sahabat yang baik bagi anaknya, agar anak bisa bercerita dengan nyaman tentang apa keluh kesahnya. (ang/bid)
Editor: Zumrotul Abidin



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.