KELANA KOTA

KPK Tunggu Kedatangan Fredrich Yunadi untuk Diperiksa Sebagai Tersangka

Laporan Farid Kusuma | Jumat, 12 Januari 2018 | 10:34 WIB
Dokter Bimanesh Sutarjo (kemeja garis vertikal) memenuhi panggilan KPK sebagai tersangka kasus dugaan menghalangi pengusutan kasus korupsi, Jumat (12/1/2018), di Gedung KPK, Jakarta Selatan. Foto: Farid suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan Fredrich Yunadi bekas pengacara Setya Novanto terdakwa kasus korupsi proyek KTP Elektronik, Jumat (12/1/2018).

Febri Diansyah Kabiro Humas KPK mengatakan, Fredrich akan diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan menghalangi atau merintangi pengusutan kasus korupsi.

Selain Fredrich, Penyidik KPK juga memanggil Dokter Bimanesh Sutarjo, spesialis penyakit dalam di RS Medika Permata Hijau yang menangani Setya Novanto pascamengalami kecelakaan mobil.

Sekitar pukul 9.15 WIB, dr.Bimanesh tiba di Gedung KPK, Jakarta Selatan. Tapi, dia datang bersama seorang pria dengan kondisi kurang sehat, yang kemungkinan adalah pasiennya.

Sambil duduk di kursi roda, pria yang kira-kira berusia 60 tahunan itu kemudian ikut mendampingi dr.Bimanesh di ruang tunggu, sebelum menjalani pemeriksaan.

Sementara itu, sampai pukul 10.00 WIB, Fredrich Yunadi terpantau belum datang di Gedung KPK.

KPK melalui juru bicaranya berharap, Fredrich bersikap kooperatif dengan memenuhi panggilan pemeriksaan.

Dengan begitu, bantahan atas sangkaan KPK bisa disampaikan langsung kepada penyidik yang memeriksa dan membuat berita acara pemeriksaan.

"Kami harap yang bersangkutan memenuhi proses hukum, hadir memenuhi panggilan tersebut. Jadi, kalau ada tanggapan dan bantahan nanti bisa disampaikan kepada Penyidik KPK," ujar Febri melalui pesan singkat, Jumat (12/1/2018).

Seperti diketahui, Rabu (10/1/2018), KPK mengumumkan penetapan status Fredrich Yunadi dan Dokter Bimanesh Sutarjo sebagai tersangka.

Fredrich dan Bimanesh diduga bekerja sama memasukkan Setya Novanto ke RS Medika Permata Hijau untuk rawat inap, dengan data medis yang diduga hasil manipulasi.

Skenario rawat inap itu dijalankan, Kamis (16/11/2017) malam, supaya Novanto yang waktu itu masih menjabat Ketua DPR punya alasan kuat menghindari panggilan dan pemeriksaan Penyidik KPK.

Atas perbuatannya, Fredrich dan Bimanesh disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dengan ancaman hukuman paling singkat tiga tahun penjara, dan maksimal 12 tahun penjara. (rid/dwi)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.