KELANA KOTA

Dua Faktor Pendorong Malang Jadi Destinasi Idola Wisatawan

Laporan Anggi Widya Permani | Sabtu, 13 Januari 2018 | 10:43 WIB
Omah Kayu, Malang. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Malang Jawa Timur masih menjadi idola destinasi wisata bagi wisatawan mancanegara maupun domestik, terutama pada musim liburan.

Menurut Dr. Sri Endah Nurhidayati Dosen Vokasi Universitas Airlangga, ada dua hal yang mendorong masyarakat untuk berwisata ke Malang termasuk Kota Batu, yaitu push factor dan pull factor.

Push factor merupakan keputusan seseorang untuk melakukan perjalanan wisata yang dipengaruhi oleh kuatnya faktor-faktor pendorong.

"Push factor itu berasal dari luar destinasi, misalnya dari iklan, testimoni teman atau lihat di media sosial bahwa tempat itu lagi viral," kata Endah kepada Radio Suara Surabaya, Sabtu (13/1/2018).

Sementara untuk pull factor, kata Endah, merupakan faktor penarik yang terkait dengan destinasinya, misalnya banyak wisata yang ditawarkan, kuliner yang menarik, harga terjangkau dan mudahnya akses menuju ke tempat wisata.

"Kalau dilihat secara historis, sejak jaman Belanda, Malang selalu menjadi tempat peristirahatan. Hal itulah yang sampai sekarang tertanam kuat di masyarakat dan menjadikan Malang sebagai destinasi perintis. Sebelum muncul wisata baru, orang tahunya Malang saja dan itu yang kemudian membekas, menjadi branding yang kuat," kata dia.

Untuk menciptakan kedua faktor tersebut, menurutnya perlu tindakan branding wisata yang kuat, misalnya dengan mempromosikan melalui media sosial agar lebih praktis.

Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Malang, kata Endah, mampu memberikan impact berupa penurunan kualitas wisata. Selain itu, dampak lainnya juga menyebabkan kemacetan, kecelakaan, dan konflik dengan masyarakat lokal.

"Seperti yang di Batu itu pernah terjadi saat musim liburan, orang Batu malah melarikan diri, keluar dari Batu, karena sudah tidak nyaman lagi. Mungkin karena jumlah wisatawannya jauh lebih banyak daripada penduduknya di sana. Jadi daya tampung wisatawannya di sana sudah overload," kata dia.

Menurut Endah, ada cara alternatif untuk mengatasi membludaknya daya tampung wisatawan, yaitu dengan mengembangkan wilayah sekitar dan memberlakukan pembatasan pengunjung.

"Jadi harus ada alternatif untuk memecahkan pengunjung yang datang ke Batu. Tidak hanya mengumpul di satu tempat, bisa dipecah ke Malang, atau di wilayah perbatasan Batu. Selain itu, upaya pembatasan para pengunjung juga perlu, terutama pada wilayah yang nature. Karena wilayah alam itu daya dukungnya kecil sekali dan rentan. Ketika semakin banyak orang yang datang, maka akan memberikan dampak ke habitat yang luar biasa, seperti sampah, polusi kendaraan dan kualitas kenyamanan. Rasio orang yang berada di wilayah satu destinasi juga akan mempengaruhi kenyamanan selama menikmati wisata, nah itu tidak bisa lagi diukur kalau jumlah pengunjungnya banyak melebihi kapasitas," kata dia.

Endah mengatakan saat ini Pemerintah Kota Batu sudah mulai melakukan pemecahan obyek wisata.

"Misalnya BNS dan sekitarnya, sekarang mulai dipecah ke wilayah yang lebih tinggi atau alam agrowisata. Kemudian ada kampung jamur dan sebagainya. Itu salah satu upaya yang sudah dilakukan untuk memecah. Jadi menghindari overload dalam satu titik dan waktu yang bersamaan. Kumpulan satu titik itu perlu dipecah agar mengurangi kepadatan. " kata dia.

Terkait sustainability dari sebuah destinasi, kata Endah, hal tersebut dipengaruhi oleh kualitas atraksi wisata. Jika kualitas destinasi semakin menurun secara konsisten, maka dalam kurun waktu 10 hingga 20 tahun kedepan, bersamaan dengan munculnya wisata baru, destinasi tersebut akan ditinggalkan oleh pengunjung.

"Sama seperti mall, awalnya ramai lama-kelamaan bisa menurun. Banyak yang berfikir kalau jumlah pengunjung banyak, maka pendapatan juga banyak. Padahal sebenarnya itu hanya jangka pendek saja. Karena tren pengunjung itu justru lebih mementingkan kenyamanan dan long stay-nya bisa lama, bukan lagi hanya singgah ninggalin sampah. Saya rasa hal itu perlu menjadi pertimbangan bagi stakeholder," kata dia. (ang/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.