KELANA KOTA

Menkes: dr Bimanesh Mempermalukan Profesi Dokter

Laporan Jose Asmanu | Minggu, 14 Januari 2018 | 07:00 WIB
RS Medika Permata Hijau Jakarta. Foto: Jose suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Nila F Moeloek Menteri Kesehatan mengatakan, kasus dr Bimanesh Sutarjo dokter RS Medika Permata Hijau Jakarta dinilai telah mempermalukan profesi dokter.

Dokter ahli penyakit dalam itu telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam dugaan memanipulsasi rekam medis untuk melindungi Setya Novanto tersangka tindak pidana korupsi e-KTP yang waktu itu diburu KPK.

Kata Menkes, kalau Bimanesh terbukti bersalah, izin praktiknya akan dicabut. Rumah sakit tempat Novanto dirawat juga akan dikenakan sanksi, kalau terbukti melakukan pembiaran atas kejadian tersebut.

"Sanksi kepada rumah sakit bisa dalam bentuk peringatan sampai pencabutan izin operasional, tergantung jenis pelanggarannya," kata Menkes, di Jakarta.

"Penyidik KPK resmi menahan dr Bimanesh Sutarjo terkait kasus hilangnya Novanto. Bimanesh ditahan di Rutan Guntur untuk 20 hari pertama," kata Febri Diansyah Kabiro Humas KPK di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta.

Dalam waktu yang sama KPK juga telah menahan Fedrich Yunadi mantan pengacara Novanto.

Dr Bimanesh diduga bersekongkol dengan Fredrich Yunadi untuk mempersulit penyidik KPK yang akan menangkap Setya Novanto.

Dalam kasus tersebut, Fredrich dan dr Bimanesh disangkakan melakukan obstruction of justice dengan sangkaan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Fredrich merupakan mantan pengacara Novanto sedangkan dr Bimanesh adalah dokter yang menangani Novanto ketika dirawat di RS Medika, Permata Hijau.

Keduanya diduga bekerja sama untuk memanipulasi data rekam medis Novanto. Manipulasi itu diduga untuk menghindari panggilan KPK.(jos/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.