KELANA KOTA

2017, Kecelakaan Lalu Lintas di Jatim Telan 5.700 Korban Meninggal

Laporan Dwi Yuli Handayani | Selasa, 16 Januari 2018 | 12:10 WIB
Ilustrasi. Desain Grafis: suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Kecelakaan lalu lintas di Jawa Timur sepanjang 2017 lalu menelan 5.700 korban meninggal dunia. Jumlah korban ini berdasarkan 26 ribu laporan kecelakaan lalu lintas yang dilaporkan ke polisi di wilayah Kepolisian Jawa Timur.

AKBP Muhammad Aldian Wadirlantas Polda Jawa Timur mengatakan, faktor utama kecelakaan disebabkan oleh human error didukung faktor lainnya seperti prasarana jalan, jalan berlubang dan pindah lajur.

Kecelakaan menonjol sepanjang tahun 2017, menurut dia adalah kecelakaan yang melibatkan bus Akas dan Mobilio di Blega, Madura. Polisi sudah melakukan gelar perkara atas kecelakaan yang menelan enam korban meninggal dunia tersebut.

Dari hasil olah TKP dan penelitian Labfor, Forensik dan Dishub ditemukan fakta mekanisme rem yang tidak bekerja maksimal.

"Karena hidrolik tekanan angin ini klebnya dipakai juga untuk klakson Telolet yang saat ini masih marak, sehingga kemampuan daya cengkraman rem kurang maksimal. Apalagi klakson telolet ini bukan dari pabrik tapi dari bengkel yang dimodifikasi sehingga sepenuhnya jadi kelalaian bus Akas yang menabrak Mobilio. Tapi selain faktor itu, di sana PJU juga dalam kondisi mati sehingga gelap gulita," kata Aldian pada Radio Suara Surabaya.

Data kecelakaan 2017 ini, lanjut dia, cukup jadi perhatian bersama karena jumlah korban meninggal meningkat dari tahun 2016 lalu. "Memang untuk jumlah kecelakaannya menurun dari tahun 2016, tapi untuk jumlah korbannya ini yang meningkat meskipun naiknya tidak banyak," ujar dia.

Sementara tentang kendaraan yang banyak terlibat, adalah roda dua dengan pengendara yang usianya masih produktif.

"Pertambahan sepeda motor saat ini luar biasa. Bertambahnya satu sepeda motor tambah resiko tersangka dan korban kecelakaan, tambah lahan parkir dan tambah bahan bakar. Bagaimana kalau jumlah sepeda motor puluah ribu setiap tahun, menambah risiko menjadi korban dan tersangka kecelakaan. Ini faktor logika hitungan matematika," katanya.

Kata Aldian, di Indonesia berbeda dengan negara maju. Di negara maju, kendaraan yang makin tua maka pajak kendaraannya makin mahal. Berbeda dengan di sini, makin tua kendaraan makin murah pajak kendaraannya.

Untuk mengurangi potensi kecelakaan lalu lintas, kata dia, pihaknya sudah berkoordinasi dengan forum lalu lintas.

"Misal ada laporan jalan rusak langsung direspon cepat. Hanya saja untuk masalah kecelakaan ini tidak serta merta tanggung jawab instansi orang-perorang tapi faktor utamanya pengendara. Sekarang banyak anak yang belum cukup umur sudah dibelikan motor, bonceng tiga. Dalam hal ini peran keluarga sangat penting dan dibutuhkan," katanya. (dwi/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.