KELANA KOTA

Kakorlantas: Sopir dan Manajemen Bus Pariwisata Bisa Menjadi Tersangka

Laporan Denza Perdana | Minggu, 11 Februari 2018 | 17:28 WIB
Irjen Pol Royke Lumowa Kakorlantas Polri. Foto: Dok. suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Irjen Pol Royke Lumowa Kakorlantas Polri mengatakan, sopir bus pariwisata Premium Passion dapat ditetapkan menjadi tersangka atas kasus kecelakaan di Subang yang mengakibatkan 27 orang meninggal dunia.

"Iya (bisa ditetapkan menjadi tersangka) akibat kelalaian hingga menyebabkan jatuh korban," ujarnya, saat meninjau lokasi kecelakaan bus, dilansir dari Antara Minggu (11/2/2018).

Royke mengatakan, kemungkinan penetapan tersangka itu bisa saja dijatuhkan, mengingat kejadian kecelakaan salah satunya disebabkan adanya pelanggaran akibat kelalaian si pengemudi.

Namun penetapan tersebut baru akan dilakukan setelah melalui pendalaman melalui pengumpulan bukti-bukti serta pemeriksaan saksi-saksi yang ada di lapangan.

"Pemeriksaan saksi-saksi dan pengumpulan barang bukti menjadi alat bukti dan sebagainya, barulah kita bisa memutuskan secepatnya," katanya.

Tak hanya sopir, pihak manajemen bus pariwisata Premium Passion juga bisa ditetapkan sebagai tersangka.

Menurut Royke, berdasar keterangan sementara sopir bus, ada masalah pada sistem rem yang disampaikan kepada pihak manajemen sebelum berangkat mengantarkan rombongan ke Bandung.

Sopir kemudian menunjukan foto adanya beberapa titik sistem rem yang bermasalah. Pihak manajemen kemudian memberikan petunjuk untuk merekayasa sistem pengereman agar bus tetap jalan.

Berdasarkan keterangan itu, kata dia, tidak menutup kemungkinan baik sopir maupun manajemen bus dapat ditetapkan sebagai tersangka akibat kelalaian mereka.

"Kemudian kita akan analisa lebih mendalam, hasilnya baru diketahui setelah sehari hingga dua hari (pemeriksaan)," kata Royke.(ant/den)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.