KELANA KOTA

Harimau Sumatera Penerkam Manusia Dinamai Boni dan Bonita

Laporan Denza Perdana | Minggu, 11 Maret 2018 | 17:12 WIB
Dokumentasi rekaman kamera perangkap harimau sumatera di Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara, pada 2 Desember 2016. (Conservation International)
suarasurabaya.net - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau berupaya mengidentifikasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang menerkam seorang warga di Kabupaten Indragiri Hilir hingga tewas, akhir pekan ini.

"Kami masih meneliti harimau yang menerkam Yusri hingga meninggal. Apakah memang harimau yang selama ini kami cari atau lainnya," kata Mulyo Hutomo Kepala Bidang Wilayah I BBKSDA Riau, di Pekanbaru, Minggu (11/3/2018).

Yusri Efendi seorang buruh bangunan di Dusun Sinar Danau, Desa Tanjung Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir meregang nyawa setelah diserang harimau sumatera, Sabtu (10/3/2018) malam, sebagaimana dilansir Antara, Minggu (11/3/2018).

Di lokasi itu pula, pada awal Januari 2018 lalu seorang warga bernama Jumiati meninggal dunia karena insiden serupa. Perempuan 33 tahun itu meninggal saat sedang melakukan perawatan sawit di tempat dia bekerja, di PT Tabung Haji Indo Plantantion (THIP).

Hutomo menjelaskan jarak antara tempat kejadian perkara pertama dan kedua cukup jauh, berkisar antara 10 hingga 15 kilometer.

Sebenarnya, pasca insiden pertama, tim BBKSDA Riau telah diturunkan untuk menangkap dan menyelamatkan harimau sumatera itu. Tim itu terdiri dari TNI, polisi dan sejumlah pegiat satwa yang dilindungi.

Sejumlah perangkap juga telah dipasang. Perangkap-perangkap berbentuk kotak berisi kambing jantan dan babi hutan menyebar di sekitar lokasi itu.

Begitu juga kamera pengintai, dipasang di setiap sudut dimana perangkap itu berada. Namun, selama lebih kurang dua bulan pencarian, belum ada perkembangan berarti.

Hutomo mengatakan terpantau dua harimau sumatera di sekitar TKP. Keduanya berjenis kelamin betina berusia sekitar empat tahun. Untuk mempermudah identifikasi, BBKSDA Riau lantas menamai keduanya Boni dan Bonita.

Dalam kejadian ini, Bonita diduga kuat pelaku penerkam warga. Bonita juga disebut mengalami perubahan perilaku pasca menerkam Jumiati. Adapun di antara perubahan perilaku itu, Bonita tidak sungkan untuk bertemu dan mendekati manusia. Padahal harimau sumatera normal akan menghindar dan lari saat melihat kerumunan manusia.

"Kami masih meneliti melalui identitas lorengnya. Apakah Bonita atau harimau sumatera lain. Pada saat kejadian tim kami memang berada di sana," ujar Hutomo yang juga didapuk sebagai ketua tim penyelamat Harimau di Inhil.

Sementara itu, dia menuturkan proses pencarian dan upaya penyelamatan Bonita terus dilakukan. Sejak awal pekan lalu, tim penyelamat Harimau terus ditambah, yakni dengan melibatkan tim penembak jitu menggunakan bius. (ant/ino/den)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.