KELANA KOTA

Jalan Tunjungan Harus Tetap Cantik dan Rindang

Laporan Denza Perdana | Senin, 16 April 2018 | 22:33 WIB
Lampu temaram dan plakat jalan Tunjungan di depan Hotel Majapahit semakin menambah suasana klasik jalan Tunjungan. Foto: Ino suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Banyak aspek yang harus dikerjakan untuk merevitalisasi kawasan cagar budaya Jalan Tunjungan menjadi kawasan Mlaku-Mlaku. Karena itu, pengerjaan revitalisasi itu dikerjakan ramai-ramai oleh Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemkot Surabaya.

Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya telah menuntaskan proyek pengerjaan trotoar dan saluran air sepanjang Tunjungan sekitar akhir 2017 lalu. Dinas itu juga yang mengadakan lampu antik dan kursi klasik untuk mempercantik trotoar.

Keberadaan lampu dan kursi itu menambah kesan nostalgia di sepanjang jalan itu, berdampingan dengan gedung-gedung cagar budaya yang akan dikembalikan ke bentuk aslinya di masa pendudukan Belanda.


Ditemani lampu temaram, para pengunjung jalan Tunjungan memanfaatkan tempat duduk yang ada di pedestrian untuk memeriksa hasil foto-foto mereka. Foto: Ino suarasurabaya.net

Tugas Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) untuk menambah kerindangan di sepanjang trotoar Jalan Tunjungan. Saat ini sudah ada sekitar 30 pohon Tabebuya dan 50 pohon Palem Kipas ukuran kecil tertanam di trotoar tersebut.

Ipong Wisnoe Wardono Kabid Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Penerangan Jalan Umum Dinas Kebersihan dan RTH Surabaya mengatakan, pihaknya tidak berencana menambah jumlah pohon di trotoar, melainkan hanya menambal sulam.

"Kalau ada yang kering kami ganti yang baru, termasuk untuk perawatan pohon," ujarnya kepada suarasurabaya.net, Jumat (13/4/2018).

Perawatan tanaman ini termasuk tanaman gantung yang ada di jembatan gantung. DKRTH setiap harinya akan menyirami semua tanaman yang ada di Jalan Tunjungan supaya tetap hijau dan rindang.

Tidak hanya Tanaman, DKRTH juga bertanggung jawab atas lampu hias yang menghiasi langit di antara atap bangunan tua di sepanjang Jalan Tunjungan.

Kalau sebelumnya lampu hias itu berbentuk merak yang menyala warna-warni, baru-baru ini DKRTH menggantinya dengan bentuk bintang-bintang yang akan berkelap-kelip di malam hari.

"Belum ada seminggu ini kami ganti. Kami akan mengganti temanya setiap tahun. Kalau desainnya, sih, kami mendapat banyak referensi dari internet," katanya.

Pengadaan lampu hias jenis LED strip untuk lima bentang lampu hias di sepanjang Jalan Tunjungan baru-baru ini setidaknya menghabiskan anggaran DKRTH senilai Rp100 juta.

Setiap bentang lampu hias ada empat bentuk bintang LED strip yang menghiasi sepanjang jalan yang belum dilakukan uji coba. Ipong mengatakan, uji coba lampu ini akan dilakukan pekan ini.

"Masih perlu menarik jaringan listriknya. Uji cobanya baru minggu depan (pekan ini,red)," ujarnya.

Sekadar diketahui untuk menyemarakkan kawasan Jalan Tunjungan, Suara Surabaya setiap tahun menggelar acara Surabaya Urban Culture Festival (SUCF). SUCF yang menampilkan produk dan budaya khas Surabaya kali ini akan digelar Sabtu, 28 April 2018 dengan tema "Tunjungan Now". Setiap tahunnya, ratusan ribu orang datang dan menikmati berbagai sajian dan pertunjukkan di SUCF.(den/ino/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.