KELANA KOTA

Ada Sejumlah Kejanggalan Surat Visum untuk Rawat Inap Setya Novanto

Laporan Farid Kusuma | Senin, 16 April 2018 | 16:47 WIB
Dokter Hafil Budianto Abdulgani Direktur Utama RS Medika Permata Hijau (menghadap majelis hakim), memberikan kesaksian pada sidang lanjutan perkara Dokter Bimanesh Sutarjo, Senin (16/4/2018), di Pengadilan Tipikor Jakarta. Foto: Farid suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, hari ini kembali menggelar sidang perkara dugaan merintangi pengusutan tindak pidana korupsi, dengan terdakwa Dokter Bimanesh Sutarjo.

Jaksa dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil tiga orang saksi. Seorang di antaranya adalah Dokter Hafil Budianto Abdulgani Direktur Utama RS Medika Permata Hijau, Jakarta Barat.

Dalam keterangannya di hadapan majelis hakim, Dokter Hafil mengungkap adanya sejumlah kejanggalan dalam surat visum untuk merawat inap Novanto, yang ditandatangani Dokter Bimanesh.

Antara lain, surat visum menggunakan kop surat dan logo lama RS Medika Permata Hijau. Kemudian, nomor surat tidak sesuai dengan yang diterbitkan RS swasta tersebut.

Kejanggalan lainnya, stempel yang digunakan adalah stempel perusahaan. Padahal, seharusnya menggunakan nama dan nomor praktik dokter.

Selain itu, Dokter Bimanesh juga mencantumkan pangkat terakhirnya di institusi Polri (Kombes Pol), dalam surat visium untuk Setya Novanto, yang kemudian diberikan kepada aparat Kepolisian.

Kemudian, jajaran Dewan Komisaris RS Medika Permata Hijau menanyakan kepada Bimanesh soal surat kejanggalan surat visum terkait kecelakaan Novanto.

Merespon pertanyaan itu, Dokter Bimanesh, kata Dokter Hafil, mengklaim sudah berkonsultasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), untuk merawat inap Setya Novanto.

"Kop surat yang digunakan tidak sesuai dengan yang digunakan. Nomor surat visum juga tidak sesuai dengan yang diterbitkan RS Medika Permata Hijau, dan logonya masih logo lama," ujar Dokter Hafil, menjawab pertanyaan Hakim Saifuddin Zuhri, di Ruang Sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (16/4/2018).

Selain Dirut RS Medika Permata Hijau, pada sidang lanjutan hari ini, Jaksa KPK juga menghadirkan Putra Rizky Romadhona Staf Teknologi Informatika RS Medika Permata Hijau, dan Deisti Astriani Tagor istri Setya Novanto, sebagai saksi.

Sekadar diketahui, KPK menetapkan Dokter Bimanesh Sutarjo sebagai tersangka, Rabu (10/1/2018), karena diduga bekerja sama dengan Fredrich Yunadi pengacara, memasukkan Setya Novanto ke RS Medika Permata Hijau.

Dua orang tersebut diduga memanipulasi data medis Novanto yang waktu itu sudah berstatus tersangka kasus korupsi proyek KTP Elektronik, supaya bisa menjalani rawat inap, dan lolos dari pemeriksaan KPK.

Atas perbuatannya, Bimanesh dan Fredrich disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Pemberantasan Tipikor, juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dengan ancaman hukuman paling singkat tiga tahun penjara, dan maksimal 12 tahun penjara. (rid/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.