KELANA KOTA

Sebagai Geopark Dunia, Gunung Rinjani Kurang Anggaran Pemeliharaan

Laporan Agustina Suminar | Selasa, 17 April 2018 | 09:34 WIB
Kawasan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB), akhirnya ditetapkan sebagai anggota baru geopark dunia dalam sidang Unesco Executive Board, Kamis (12/4/2018), di Paris, Prancis. Foto: Humas Kementar
suarasurabaya.net - Muhammad Faozal Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat mengatakan, siap mempertahankan status Gunung Rinjani menjadi bagian dari jaringan Geopark Dunia atau UNESCO Global Geopark (UGG).

"Setelah Rinjani menjadi bagian dari jaringan Geopark Dunia atau UNESCO Global Geopark (UGG), tugas terberat kita selanjutnya adalah mempertahankan maintenance status global geopark. Nah inilah yang kita harus rumuskan bersama untuk mengawal itu," kata Faozal di Mataram, Selasa (17/4/2018).

Menurutnya, untuk mempertahankan status tersebut, pemerintah daerah tidak bisa melakukan hal itu sendirian. Pemda meminta seluruh pihak juga harus terlibat di dalamnya. Salah satunya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR).

"TNGR selaku pengelola kawasan bersama kita kepentingannya sama di pariwisata. Contoh kasus sampah tidak selesai oleh taman nasional, maka di butuhkan ada pihak yang lain ikut membantu untuk membersihkan," terangnya kepada Antara.

Selain itu, tugas berat selanjutnya adalah bagaimana meyakinkan masyarakat lingkar kawasan Gunung Rinjani seluruhnya berada pada kepentingan yang sama, yakni menjaga lingkungan sekitar tetap terjaga dengan baik.

"Nah edukasi masyarakat penting, melibatkan masyarakat lokal. Termasuk, kebersamaan antar stakeholder ini juga penting harus tetap terjaga," ucap Faozal.

Selanjutnya, menurut Faozal perlu mendapat perhatian adalah bagaimana dukungan dan keberpihakan anggaran. Hal ini terkait untuk menjaga keberlangsungan kawasan Rinjani.

Sebab, selama ini menurutnya pendapatan taman nasional yang masuk dalam pendapatan negara non pajak itu, tidak kemudian berbanding lurus dengan anggaran yang tersedia di Taman Nasional Gunung Rinjani.

Akibat dari anggaran yang kurang itulah, maka ada beberapa aspek yang kurang terlengkapi di Gunung Rinjani.

"Pemasukan Gunung Rinjani itu banyak tapi tidak sebanding dengan anggaran yang diterima oleh pihak taman nasional. Yang mana, anggaran itu nantinya juga digunakan untuk mengelola dan membuat Gunung Rinjani lebih nyaman didatangi," tegasnya.

Mantan Kepala Museum NTB itu menambahkan, bila dilihat sisi dampak pariwisata dengan peningkatan status UGG itu, maka sudah pasti. Sebab, delimitasi global geopark Rinjani 80 persen adalah kawasan wisata. Sehingga, berpengaruh pada segala aspek.

Namun, sekali lagi kata dia, dari peningkatan status Rinjani menjadi global geopark, yakni bagaimana kolaborasi yang baik antara kepentingan pariwisata dan kepentingan kelestarian lingkungan tetap terjaga.

"Sekarang coba dilihat Satgas lingkungan adanya hanya di Dinas Pariwisata, taman nasional juga harus berpikir yang konkret terkait tata kelola kawasan sebab dia yang bertanggungjawab juga. Kalau kami bersama Kementerian Pariwisata bagaimana menjaga kawasan ini tetap menjadi destinasi yang unggul dan tetap jadi pilihan bagi turis," tandas Faozal. (ant/tna/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.