KELANA KOTA

Rakayasa Bundaran Dolog, Kemacetan Pindah di FR Timur

Laporan Zumrotul Abidin | Rabu, 18 April 2018 | 11:50 WIB
Kondisi frontage road sisi timur di Jemur Ngawinan saat terjadi rekaya jalur lalu lintas di Bundaran Bulog, Rabu (18/4/2018). Foto: Abidin suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Pada Rabu (18/4/2018) pagi Satlantas Polrestabes Surabaya dan Dishub Kota Surabaya melakukan uji coba rekayasa lalu lintas di Bundaran Dolog Jl. Ahmad Yani.

Bagi pengendara dari arah timur Jl Jemur Ngawinan langsung belok kiri ke frontage road (FR) sisi timur saat sampai di TL Jemur Ngawinan. Pengendara tidak boleh masuk Jalan Ahmad Yani kalau mau ke selatan. Pengendara dari timur ini baru boleh masuk ke Ahmad Yani melalui perlintasan kereta api BRI Siwalankerto.

Sementara seluruh kendaraan yang dari selatan atau Sidoarjo tidak boleh lagi putar balik sebelum Taman Pelangi, tapi harus putar balik ke Bundaran Dolog. Tapi, untuk pengendara yang mau ke Siwalankerto harus masuk frontage road sisi timur. Jalan empat lajur yang mengarah ke Jemursari ke timur diterapkan satu arah ke timur.

AKBP Eva Guna Pandia Kasatlantas Polrestabes Surabaya mengatakan, tujuan dilakukanya rekayasa jalur lalu lintas ini guna mengurai kemacetan di Bundaran Dolog.

"Kami akan evaluasi untuk melanjutkan rekayasa ini. Kami akan rapat dengan kawan kawan Dishub," katanya di lokasi kepada suarasurabaya.net.

Tapi, pantauan suarasurabaya.net di lapangan. Justru kemacetan atau volume kendaraan menumpuk di frontage sisi timur mengular hingga pertigaan jemursari, Jemur Ngawinan dan Jemur Andayani. Masalah ini disebabkan karena Jemur Andayani menuju Barat itu lampu merahnya boleh jalan terus.

Uji coba rekayasa lalu lintas akhirnya diputuskan hanya satu jam. Sore ini Satlantas dan Dishub Kota Surabaya akan lakukan evaluasi. Apakah besok masih diberlakukan rekayasa baru ini. (bid/ino/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA