KELANA KOTA

Korban Miras Oplosan di Pacar Keling Bertambah

Laporan Anggi Widya Permani | Senin, 23 April 2018 | 22:21 WIB
Jenazah meninggal akibat pesta miras oplosan, warga Pacar Keling Gang 4 Tambaksari, Surabaya, Minggu (22/4/2018). Foto: Abidin suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Korban pesta minuman keras (miras) oplosan di kawasan Pacar Keling Surabaya, bertambah lagi. Kali ini, dua pria kondisinya masih lemas dan sedang menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Dua korban itu, di antaranya G (34) dan W (38), yang keduanya merupakan warga Pacar Keling.

Kompol Prayitno Kapolsek Tambaksari mengatakan pihaknya menerima laporan dari masyarakat sekitar pukul 15.00 WIB, terkait adanya dua orang yang mengalami sesak napas.

Kemudian kedua orang tersebut dibawa ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata dua orang itu terbukti, juga terlibat dalam pesta miras oplosan dengan tiga korban sebelumnya yang meninggal dunia, pada Minggu (22/4/2018).

"Dua orang itu, ya rekannya, satu kelompok dengan tiga korban yang meninggal. Justru mereka ini yang diajak sama tiga orang yang meninggal itu. Diajak belinya dimana, dan tahu peraciknya siapa. Kami sudah amankan barang buktinya, semoga kedua korban keadaannya baik-baik saja," kata Prayitno, saat dihubungi suarasurabaya.net, Senin (23/4/2018).

Prayitno mengatakan sebelumnya kedua orang itu, pernah dimintai keterangan oleh polisi. Namun, mereka berdua tidak mengaku dan berhasil lolos dari proses pemeriksaan, lantaran mereka pintar menyembunyikan bau alkohol.

"Sebelumnya sudah pernah ketemu dengan keduanya. Tapi ya gitu, mereka tidak bilang kalau ikutan pesta miras oplosan. Mungkin karena juga ini bukan keahlian kami ya. Saat diperiksa mereka juga tidak bau sama sekali. Saya heran, dikasih apa, penawar apa, sampai akhirnya mereka lolos," tambahnya.

Menurut Prayitno, bertambahnya korban miras oplosan ini, juga dipengaruhi keberanian warga untuk melapor yang dinilai masih kurang.

"Sudah kami sampaikan ke masyarakat disana, imbauan-imbauan lewat berbagai kelompok, seperti tokoh agama, acara cangkrungkan dan lain-lain. Cuma sepetinya kelompok ini, kemungkinan tidak masuk ke masjid atau bergabung dengan kelompok yang sudah mendapatkan sosialisasi. Jadi imbauan kami tidak sambung. Keberanian laporan warga juga masih kurang. Padahal kami sudah sediakan call center," pungkasnya. (ang/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.