KELANA KOTA

Ketua KWI Sesalkan Berita dan Komentar di Medsos yang Semakin Liar

Laporan Jose Asmanu | Selasa, 15 Mei 2018 | 14:15 WIB
Mgr. Ignatius Suharyo Uskup Agung Jakarta (ketiga kanan) menerima bunga mawar putih sebagai simbol solidaritas dari perwakilan Komunitas Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi (kedua kanan) usai memimpin misa di Katedral Jakarta, Minggu petang. Foto: Antara
suarasurabaya.net - Mgr Ignatius Suharyo Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) mengajak masyarakat dan pengamat menghentikan komentar di media sosial terkait tragedi bom di Surabaya dan Sidoarjo. Iganatius menilai bahwa hal itu membuat situasi semakin panas.

Para pemuka agama mengutuk tragedi ini dan sepakat menyerahkan kepada aparat keamanan untuk memburu pelaku dan seluruh jaringan
sampai tuntas.

"Di tengah keprihatinan atas terjadinya teror, Ignatius Suharyo mengajak semua lapisan masyarakat, apapun suku dan agamanya untuk bersatu membangun kekuatan satu, melawan terorisme," kata Ketua KWI itu melalui pesan tertulis yang diterima suarasurabaya.net, Selasa (15/5/2018).

Mencermati berita dan komentar di media sosial pasca teror bom di Surabaya, Ketua KWI yang merangkap sebagai Uskup Agung Jakarta itu menilai, komentar yang berkembang sudah tidak sehat lagi. Sulit dibedakan antara berita yang benar dan hoaks bernada provokasi. Selain itu, foto yang menggambarkan sadisme dan berdarah darah melalui di medsos juga tidak terkontrol.

Menurut Uskup Agung, orang-orang yang bangga mengunggaah atau mengirim foto sadisme di medsos adalah perilaku menyimpang. Menurutnya, jika hal ini terus menerus terjadi dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru, yakni perpecahan di kalangan anak bangsa. Harapan yang sama sebelumnya juga diungkapkan KH Said Awil Siroj Ketua Umum PBNU, dan Haedar Nasir Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Dalam pertemuan dengan para pemuka agama di Kantor PBNU kemarin, Aqil menyebut umat Islam merasa dirugikan atas kejadian tetor bom di Surabaya dan Sidoarjo, atau kejadian serupa di tempat lain. Karena pelaku menggunakan simbol-simbol keagamaan terutama Islam. Padahal Islam maupun agama yang lain, menurutnya, menentang terorisme apapun tujuannya.

"Ajaran Islam selalu menekan hidup yang rukun dan damai tanpa memandang suku dan agamanya," kata Kang Said. (jos/tna)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.