KELANA KOTA

Era Digital, Perpusnas Tetap Merawat Jutaan Koleksi Bukunya

Laporan Farid Kusuma | Kamis, 17 Mei 2018 | 10:20 WIB
Halaman utama Gedung Perpusnas Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, yang baru diresmikan Joko Widodo Presiden pada September 2017. Foto: Farid suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Buku dan perpustakaan, dua hal yang sudah ditakdirkan bersama. Perpustakaan ibarat sebuah rumah, dan buku adalah para penghuninya.

Pada masanya, masyarakat dari berbagai kalangan yang ingin membaca buku, mencari referensi dan sebagainya, biasa datang langsung ke perpustakaan.

Tapi, seiring perkembangan zaman, di mana isi buku sudah banyak versi digitalnya, masyarakat yang perlu buku bacaan tidak harus datang ke perpustakaan.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pun sudah menerapkan program digitalisasi buku, yang bertujuan memudahkan publik untuk membaca buku.

Koleksi buku-buku langka tersusun di rak penyimpanan Gedung Perpusnas. Foto: Farid suarasurabaya.net

"Kegiatan alih media digital di Perpustakaan Nasional RI dirintis sejak berdirinya Bidang Transformasi Digital tahun 2001," kata Budi Wahyono Pustakawan Ahli Pertama saat berbincang dengan suarasurabaya.net, Selasa (15/5/2018), di Gedung Perpusnas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Berdasarkan data, tahun 2017, jumlah koleksi pustaka Perpusnas ada sekitar 4 juta, antara lain berbentuk 123 ribu jurnal dari berbagai disiplin ilmu, 20 ribu jenis e-book, serta 25 ribu copy bahan bacaan dalam i-Pusnas.

Menjadi anggota Perpusnas, lanjut Budi, juga tidak harus mencetak kartu anggota, tapi bisa mendaftar online dengan mengisi formulir untuk mendapatkan nomor anggota dan kata sandi, untuk mengakses e-resources.

"Kalau sudah terdaftar, anggota bisa membaca jurnal ilmiah, buku digital, dan karya-karya referensi online lainnya," imbuhnya.

Masyarakat juga bisa mengakses fitur online public acces catalog (OPAC) untuk mencari buku koleksi Perpusnas yang akan dibaca, dan Indonesia One Search (IOS) untuk melihat katalog buku yang ada di seluruh wilayah Indonesia.

"Berdasarkan data, saat ini ada 5.852.477 buku yang sudah terdaftar di sistem IOS," papar Budi.

Selain itu, Perpusnas mengembangkan aplikasi i-Pusnas yang bisa diunduh di Playstore atau Appstore. Dengan aplikasi itu, pengguna bisa membaca hampir seluruh buku koleksi Perpusnas, berbagi bacaan, dan bersosialisasi secara bersamaan.

Untuk versi digital, menurut Budi, ada pengecualian yaitu buku-buku langka. Jadi, publik yang ingin membaca harus datang langsung ke Perpusnas.

"Kami tidak menargetkan pengunjung yang datang ke sini untuk membaca buku. Yang sekarang jadi tolok ukur adalah seberapa banyak orang yang mengakses layanan Perpusnas online," ungkap pria asal Semarang itu.

Meski sudah berbasis digital, Perpusnas tetap merawat buku-buku koleksinya dengan baik. Proses perawatan 'harta' perpustakaan itu dilakukan di Gedung Perpusnas yang lokasinya di daerah Salemba, Jakarta Pusat.

"Untuk mencegah dan membasmi hama yang bisa merusak bahan pustaka, kami rutin melakukan pengasapan atau istilahnya fumigasi," tegasnya.

Sekadar diketahui, Kamis (14/9/2017) Joko Widodo Presiden meresmikan Gedung Perpusnas Baru 24 lantai plus tiga basement, yang tercatat sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia.

Berbagai fasilitas yang tersedia, bisa dimanfaatkan pengunjung perpustakaan secara gratis, antara lain ruang baca yang nyaman, ruang audiovisual yang menyediakan komputer dan jaringan internet.

Salah satu yang menjadi lokasi favorit adalah area foto di Lantai 24. Di situ, pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang sejajar dengan Monumen Nasional (Monas).

Selain itu, fasilitas yang juga dikembangkan oleh Perpusnas adalah layanan untuk lansia dan penyandang disabilitas. Itu merupakan salah satu yang sangat penting, mengingat pemenuhan kebutuhan informasi dan akses literasi merupakan hak utama setiap orang. (rid/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA