KELANA KOTA

Perawat di Jepang Ini Diduga Tewaskan 20 Pasien dengan Suntikan

Laporan Dwi Yuli Handayani | Kamis, 12 Juli 2018 | 11:07 WIB
Ilustrasi
suarasurabaya.net - Seorang mantan perawat ditahan lantaran diduga menewaskan sebanyak 20 pasien lansia dengan memasukkan bahan kimia ke dalam infus, menurut lansiran media Jepang, Rabu (11/7/2018).

Tersangka dikabarkan ingin memegang kendali saat pasiennya meninggal.

Polisi mengatakan Ayumi Kuboki (31) ditahan atas dugaan pembunuhan seorang pria berusia 88 tahun di sebuah rumah sakit di pinggiran kota Tokyo. Mereka enggan mengonfirmasi adanya penyelidikan lebih luas.

Dia ditangkap pada Sabtu atas dugaan pembunuhan pasien lansia itu pada 2016, tapi dia mengatakan kepada polisi bahwa dia mungkin menewaskan hingga 20 orang, menurut keterangan media setempat seperti dilansir Antara.

Tersangka diyakini sudah tidak bekerja sebagai perawat sejak kematian pasien pada 2016 tersebut.

Kuboki diduga menewaskan pria berusia 88 tahun itu dengan menyuntikkan disinfektan ke dalam infusnya, menurut laporan media.

Tersangka mengatakan kepada polisi bahwa dia mencampurkan disinfektan ke dalam infus sekitar 20 pasien, demikian dilansir Jiji Press, yang memuat kutipan narasumber polisi yang tidak ingin disebutkan namanya.

Kuboki dilaporkan membantah adanya dendam khusus terhadap pasiennya, tetapi mengatakan dia merasa sulit menangani kematian pada jam shifnya, dan menyuntikkan infus memungkinkan dia untuk memegang kendali ketika pasiennya meninggal.

"Menjelaskan kepada anggota keluarga tentang kematian tidak mudah jika seorang pasien meninggal dalam jam kerja saya," katanya kepada penyidik, menurut pemberitaan Jiji.

Asahi Shimbun juga melaporkan bahwa dia mengakui menyuntikkan disinfektan ke dalam sekitar 20 infus pasien, demikian dikutip AFP.(ant/dwi/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.