KELANA KOTA

BSSN: Game Online jadi Sarana Komunikasi Teroris

Laporan Agung Hari Baskoro | Kamis, 12 Juli 2018 | 11:57 WIB
Game Online Clash of Clan. Foto: itunes.apple.com
suarasurabaya.net - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyebutkan, game online yang sering digunakan oleh anak-anak muda dapat dijadikan sarana komunikasi teroris untuk melakukan serangan.

"Ini yang baru kita deteksi. Memang tidak kita sebarluaskan," kata Anton Setiawan Jubir BSSN, usai menjadi pembicara Seminar Indonesia International Defense Science (IIDS) 2018 yang digelar Universitas Pertahanan (Unhan), di Kemayoran, Jakarta seperti dilansir Antara, Kamis (12/7/2018).

Menurut dia, pihaknya melihat ada potensi serangan terorisme di Prancis menggunakan game Play Station 4 dan sekarang dengan pesatnya game online, potensi tersebut menjadi lebih besar lagi.

"Jadi kita berusaha. Kita belum menemukan jalan sebetulnya bagaimana menemukan pemblokiran (blocking) terhadap aplikasi game itu lantaran aplikasi game online digunakan oleh semua anak-anak di seluruh dunia," kata Anton.

Ia mengaku tidak bisa melakukan pemblokiran begitu saja karena akan menimbulkan banyak permasalahan, namun pihaknya akan mencoba bekerja sama dengan para periset game online untuk melakukan deteksi dini.

"Bukan saja game online, namun aplikasi-aplikasi di kehidupan kita yang memungkinkan untuk dijadikan komunikasi," jelasnya.

Saat ini, BSSN sendiri terus tingkatkan kerja sama secara lebih spesifik dengan negara-negara yang berkomitmen mencegah gerakan aksi teror. Termasuk kerja sama dalam Forum bilateral badan siber Malaysia dan Singapura, tingkat Asia Pasifik, OKI dan kerja sama global lainnya.

Selain sarana komunikasi yang ada di console PS-4, diduga kuat juga masih ada game online lain yang memiliki sarana komunikasi langsung yang digunakan teroris. Diantaranya Clash of the Titans, Clash of Clan, War of World Craft, dan lain-lain.

"Kita mendapatkan informasi dari mereka. Jadi ini masih sebatas close information dan antisipasi kita. Tapi kalau itu digunakan akan sangat luar biasa efeknya. Kita mendeteksinya sangat sulit," tutur Anton.

Ia menambahkan tindakan preventif bisa dilakukan, namun dampaknya akan luar biasa karena teroris berada di ranah publik dan tidak spesifik.

"Kalau spesifik tersendiri kita mudah melihat, quarantine, kemudian melakukan aksi. Tapi, ketika dia berbaur dengan publik akan sangat sulit bagi kita melakukan deteksi," tutur Anton.

Ia pun mengingatkan agar semua orang mulai berpikir bahwa kemajuan IT harus diperhatikan oleh semua lapisan masyarakat termasuk pengambil keputusan. (ant/bas/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.