KELANA KOTA

BNPT: Negara Bertanggung Jawab Bina Anak Teroris

Laporan Dwi Yuli Handayani | Kamis, 12 Juli 2018 | 14:23 WIB
Ilustrasi. Grafis: suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan, negara memiliki tanggung jawab dalam melakukan pembinaan bagi anak-anak keluarga teroris sebagai bagian dalam upaya melawan radikalisasi.

Irjen Pol Hamidin Deputi Kerja sama Internasional BNPT di sela-sela seminar internasional Indonesia International Defense Science (IIDS) 2018, di Jakarta, Kamis (12/7/2018) menjelaskan anak-anak yang orangtuanya terlibat terorisme harus diambil alih dan dibina secara khusus.

"Mereka yang di bawah umur itu umumnya belum bisa berdiri sendiri. Jadi anak-anak yang terlibat di terorisme itu anak-anak yang bermasalah hukum. Mereka orang-orang yang harus kita ambil alih, harus kita bina secara khusus," katanya seperti dilansir Antara.

Sebab, lanjut dia, untuk merekrut teroris itu yang paling mudah mengajak dari lingkungan keluarga.

"Ini yang selama ini kita lupakan. Kita lupa bahwa lingkungan keluarga paling efektif untuk diajak, seperti kasus Surabaya. Jadi BNPT terlibat untuk pencegahan berikutnya. Jadi begitu dia masuk ke sana, maka program counter radikalisasi untuk anak-anak itu dilakukan," kata Hamidin.

Ia mencontohkan, ada kasus anak yang orangtuanya menjadi pelaku aksi teror di Irak. Ketika diinvestigasi, sang anak tidak pernah berkeinginan menjadi mujahidin seperti yang dilakukan orangtuanya yang sudah tewas.

Namun, lanjut dia, anak di bawah umur tersebut gemar bermain senjata karena faktor lingkungan yang membentuknya. Jika tidak dibina, maka bukan tidak mungkin suatu waktu malah akan mengikuti jejak orangtuanya.

"Jadi anak seperti itu sudah bermain senjata. Mereka mengatakan dia teroris radikal dan akan menjadikannya teroris. Nah itu negara harus mengambil alih. Dia itu contoh dan kami ambil alih. Kita masukkan dia ke pesantren, belajar normal, kita jadikan anak normal," ucapnya.

Oleh karena itu, tambah dia, negara harus terlibat, tetapi komponen utamanya adalah keluarganya. Kalau kita ambil alih serta merta, kita akan mendapat penolakan. Dan di situ sang anak butuh komunitasnya, ujarnya. (ant/dwi/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.