KELANA KOTA

Wapres: RSI Diharapkan Bisa Melengkapi Layanan Kesehatan Islami

Laporan Denza Perdana | Kamis, 12 Juli 2018 | 16:30 WIB
Jusuf Kalla Wakil Presiden saat meresmikan Gedung Graha Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya di Jalan Ahmad Yani Nomor 24 Surabaya, Kamis (12/7/2018). Foto: Humas Pemprov Jawa Timur
suarasurabaya.net - Jusuf Kalla (JK) Wakil Presiden RI melakukan kunjungan ke Surabaya untuk meresmikan Gedung Graha Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya di Jalan Ahmad Yani Nomor 24 Surabaya, Kamis (12/7/2018).

Pada kesempatan itu, JK mengapresiasi kemajuan pembangunan fisik dan peningkatan layanan rumah sakit yang berada di bawah pengelolaan Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis).

"Ini RS yang memiliki sejarah panjang dan terus mengalami kemajuan. Karena itu, kami harapkan dengan pembangunan Graha RSIS ini akan melengkapi niat baik dan upaya kita memiliki layanan kesehatan yang islami," katanya dalam keterangan pers yang diterima suarasurabaya.net.

Wapres mengatakan, selain kemajuan pendidikan, untuk menjadi bangsa yang besar, salah satu yang menentukan adalah kemajuan pembangunan di bidang kesehatan.

"Jika bangsa ini ingin besar, tentu masyarakatnya harus produktif, agar bisa produktif, tentu harus sehat. Jadi kita harus bangun kesehatan," katanya.

Rumah Sakit, kata dia, menjadi salah satu faktor penentu kemajuan kesehatan. Karena itu, pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini meminta RS untuk meningkatkan SDM tenaga kesehatan, teknologi, hingga keramahan atau hospitality-nya.

Jusuf Kalla juga menegaskan, perbaikan fasilitas rumah sakit tetap harus dibarengi dengan kesehatan lingkungan serta perilaku masyarakat.

Karena itu, masyarakat diharapkan bisa menjaga kebersihan lingkungan serta pola hidup yang sehat agar terhindar dari masalah kesehatan.

Setelah memberikan sambutan dan meresmikan gedung Graha RSIS, Wapres Jusuf Kalla berkesempatan meninjau beberapa ruangan di gedung ini. Mulai dari poli umum, disusul hemo dialis ruang cuci darah, kemudian menuju lantai empat di Ruang Mekah, ruang rawat inap.

Pada kesempatan ini, Wapres didampingi Nila Moeloek Menteri Kesehatan, Mohammad Nasir Menristek Dikti, Mohamad Oemar Kepala Sekretariat Wapres, Syahrul Udjud Staf Khusus Wapres Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Otonomi Daerah.

Selama di Surabaya, Wapres juga didampingi oleh Prof Dr Ir Mohammad Nuh, Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis), juga Soekarwo Gubernur Jawa Timur.

Soekarwo mengatakan, kehadiran RSIS memperkuat fasilitas pelayanan kesehatan di Jawa Timur. Dengan kualitas itu, dia berharap RSI semakin berkontribusi aktif dalam melakukan upaya promotif dan preventif kesehatan bagi masyarakat Jatim.

Pakde Karwo, mengatakan, secara struktur, fasilitas pelayanan kesehatan di Jatim sudah sangat lengkap.

Di tingkat desa sudah ada 5.721 Pondok Bersalin Desa (Polindes), dan 3.213 Pondok Kesehatan Desa (Ponkesdes). Kemudian di tingkat kecamatan terdapat 964 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), dan 2.720 Puskesmas Pembantu (Pustu), hingga terdapat 377 Rumah Sakit (RS) di tingkat kabupaten/kota.

"Dari 377 Rumah Sakit itu, sebanyak 75 persen sudah terakreditasi. Dan dari seluruh RS di Jatim, 70 persennya adalah RS swasta. Karena itu, kami memberi apresiasi kepada RSIS yang terus meningkatkan pelayanan yang berkualitas bagi masyarakat," katanya.

Pakde Karwo menambahkan, meski fasilitas itu sudah lengkap dia berharap pelayanan kesehatan di seluruh tingkat, mulai desa hingga kabupaten/kota, bahkan sampai pusat, agar lebih mengutamakan penguatan fungsi promotif dan preventif. Yakni mempromosikan gaya hidup sehat dan pencegahan penyakit.

"Jadi, konsepnya adalah bagaimana agar orang hidup sehat, bukan mengobati atau menyembuhkan orang sakit (kuratif). Pembiayaan di BPJS sebagian besar adalah di kuratif, saya pikir konsep JKN akan jebol jika konsep utamanya adalah menyembuhkan orang sakit. Kita harus lebih mengutamakan upaya promotif-preventif," katanya.(den/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.