KELANA KOTA

Konferensi Geolcon, Supaya Informasi Geospasial di Indonesia Lebih Akurat

Laporan J. Totok Sumarno | Kamis, 12 Juli 2018 | 20:28 WIB
Joni Hermana Rektor ITS ketika mendapat penjelasan pemanfaatan drone di Geolcon 2018. Foto: Humas ITS Surabaya
suarasurabaya.net - Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar Geomatics International Conference (GeoIcon) di Hotel Swiss Belinn-Manyar, Kamis (12/7/2018).

Hadir dalam konferensi ini Prof Dr Ir Hasanuddin Zainal Abidin Ketua Badan Informasi Geospasial (BIG) Indonesia, dan Nobuhiro Kishimoto CEO Magellan System Japan Inc.

Konferensi ini membahas pengembangan informasi geospasial yang lebih akurat.

Prof Ir Joni Hermana Rektor ITS membuka Geolcon. Hasanuddin Zainal Abidin yang biasa disapa Hasan menerangkan, informasi geospasial ini keberadaannya sangat penting.

"Geospasial sendiri merupakan informasi yang menunjukkan posisi suatu objek yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi dengan mengacu pada suatu sistem koordinat," kata Hasan.

Hasan mengatakan, dengan informasi berupa data spasial yang cukup memadai, kekayaan sumber daya alam yang ada di Indonesia tentu akan bisa dimanfaatkan dengan baik.

"Sayangnya, informasi geospasial yang selama ini tersedia di Indonesia tidak begitu detail," papar mantan Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB ini.

Hasan menjelaskan, mayoritas data geospasial yang ada di Indonesia masih berada di skala 1 : 50.000. Data ini dinilai kurang akurat, mengingat kebutuhan data spasial yang dibutuhkan sebuah instansi atau lembaga berada dalam skala 1 : 5.000.

Dengan tuntutan akurasi itu, dibutuhkan banyak sumber daya manusia yang nantinya akan terlibat.

"Indonesia ini negara yang sangat luas, butuh banyak surveyor untuk membuat data geospasial yang terperinci," kata lulusan University of New Brunswick, Kanada ini.

Dia juga mengklaim ketidakakuratan data geospasial yang ada mampu menimbulkan konflik sosial.

"Untuk itu, BIG telah mencanangkan Kebijakan Satu Peta Nasional (One Map Policy) demi menghindari masalah yang kemungkinan dapat terjadi," ujar alumnus Teknik Geodesi ITB ini.

Mendukung kebijakan tersebut, GeoIcon juga mengundang CEO sebuah perusahaan penyedia data spasial dari Jepang, Nobuhiro Kishimoto.

Perusahaan berbasis riset ini menggunakan teknologi yang cukup canggih sehingga mampu menyediakan data dengan akurasi tinggi.

Nobuhiro Kishimoto mengklaim, dengan teknologi tersebut, penyelesaian One Map Policy yang diwacanakan pemerintah Indonesia mampu diselesaikan dengan lebih cepat lagi.

"Kami memiliki satelit yang cukup sensitif juga perangkat lunak semacam GPS (global positioning system) dengan akurasi yang cukup," papar Nobuhiro.

Dengan menggunakan drone untuk pengambilan gambar, lanjutnya, data yang didapat menjadi cukup jelas. Nobuhiro mengatakan, dia dengan senang hati berbagi apabila Indonesia membutuhkan bantuan untuk data spasial ini.

Sementara itu, Muhammad Nur Cahyadi Kepala Departemen Teknik Geomatika ITS mengatakan, GeoIcon merupakan tempat berbagi pengetahuan bagi mahasiswa Teknik Geomatika ITS dengan pemangku kebijakan di bidang ini.

Nur menuturkan, mengingat urgenitas pengadaan data geospasial, acara ini pun mengangkat tema Geospasial Technology for Mapping The Future: Human Resource Development.

Konferensi ini dihadiri peserta dari dalam maupun luar negeri. Antara lain Badan Perencanaan Pembangungan Kota (Bappeko), instansi militer dan institusi terkait pun turut ambil bagian dalam konferensi bertaraf internasional tersebut.

"Peserta luar negeri seperti dari Malaysia, Thailand dan lain-lain juga hadir untuk tahun ini, peserta paling jauh berasal dari Rusia dan Polandia," pungkas Nur.(tok/den)
Editor: Denza Perdana



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA