KELANA KOTA

Emak-emak Unjuk Rasa di Depan Istana Merdeka Tuntut Turunkan Harga Sembako

Laporan Jose Asmanu | Rabu, 18 Juli 2018 | 16:55 WIB
Barisan Emak-Emak Militan Indonesia ketika berdemo menuntut sembako murah di depan Istana Merdeka, Rabu (18/7/2018). Foto: Jose suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Naiknya harga kebutuhan pokok dari hari ke hari, mendorong perwakilan ibu-ibu se-Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi yang tergabung dalam aliansi emak-emak militan Indonesia, berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, Rabu (18/7/2018).

Ibu-ibu pengunjuk rasa itu membawa peralatan dapur yang biasa mereka pergunakan untuk memasak sehari. Alat dapur dipukulkan dengan alat lainnya sehingga menimbulkan bunyi menyerupai alat musik perkusi.

Sebagian lagi berderet menghadap ke jalan raya sambil membentangkan poster berisi protes kepada pemerintah yang dinilai melakukan pembiaran terhadap naiknya harga sembako, naiknya tarif dasar listrik, dan dikuranginya suplai BBM bersubsidi jenis premiun.

Secara tidak langsung masyarakat dipaksa membeli BBM non subsidi seperti pertamax dan pertalite, yang harganya lebih mahal.

Beberapa pengunjuk rasa mencoba berdialog dengan polisi dan menanyakan sebagai ibu rumah tangga, istri Polisi ikut merasakan kenaikan harga sembako apa tidak.

Sedang pengunjuk rasa yang lain berorasi di atas mobil yang didesain menyerupai panggung. Mereka berorasi secara bergantian dengan lantang. "Bapak Presiden perhatikan nasib kami, yang terus terhimpit oleh melonjaknya harga kebutuhan pokok. Harga telur ayam terus naik, sayur naik. Jangan sibuk membangun pencitraan," terik Endah ibu rumah tangga asal Bogor dari atas mobil yang dihadapkan ke Istana Merdeka.

Tapi keinginan emak-emak agar suara mereka didengar langsung oleh Jokowi Presiden, tidak kesampaian. Hal ini karena Presiden sedang berada di Istana Bogor. (jos/bas/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.