KELANA KOTA

KSP: Presiden Punya Pertimbangan Menunjuk Syafruddin sebagai Menteri PAN RB

Laporan Farid Kusuma | Rabu, 15 Agustus 2018 | 14:42 WIB
Komjen Syafruddin Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Foto: Jose suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Joko Widodo Presiden, hari ini melantik Komisaris Jenderal Pol Syafruddin, sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB), menggantikan Asman Abnur.

Moeldoko Kepala Staf Kepresidenan mengatakan, terpilihnya Syafruddin yang sebelumnya menjabat Wakapolri sebagai menteri, sudah melalui proses pertimbangan.

Presiden, sambung Moeldoko, punya tim pemantau. Jadi, tidak asal menunjuk menteri, tanpa menganalisa rekam jejak dan kemampuan, di sektor yang akan ditanganinya.

"Pasti Presiden sudah mempertimbangkan dengan matang sebelum menunjuk seseorang jadi menteri. Kan ada scouting talent (pencari bakat)," ujar Moeldoko, sebelum menandatangani kesepakatan bersama Mendagri, Kepala Bappenas dan Ketua KPK dalam upaya pencegahan korupsi, Rabu (15/8/2018), di Kantor KPK, Jakarta Selatan.

Terkait mundurnya Asman Abnur, Moeldoko menduga keputusan itu diambil karena faktor psikologis, di mana Partai Amanat Nasional (PAN) yang mengutusnya sebagai menteri, tidak menjadi bagian koalisi partai pendukung Jokowi Presiden pada Pilpres 2019.

"Mungkin mundurnya Pak Asman Abnur karena faktor psikologis," tegasnya.

Seperti diketahui, tadi pagi Jokowi Presiden melantik Syafruddin di Istana Negara, Jakarta.

Syafruddin akan menggantikan tugas Asman Abnur di kabinet kerja, di sisa masa jabatan periode 2014-2019 yang tinggal sekitar setahun.

Sementara itu, posisi Wakapolri yang ditinggalkan Syafruddin, kemungkinan akan diisi Inspektur Jenderal Polisi Idham Aziz yang sekarang menjabat Kapolda Metro Jaya. (rid/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.