KELANA KOTA

Wacana Ganjil Genap di Surabaya, Ini Kata Pengamat Transportasi

Laporan Anggi Widya Permani | Rabu, 12 September 2018 | 06:33 WIB
Ilustrasi, kemacetan lalu lintas di Jl. Panglima Sudirman, Surabaya. Foto: Dok. suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Polrestabes Surabaya sempat mewacanakan penerapan sistem ganjil genap, sebagai upaya mengurai kemacetan di Surabaya. Penerapan itu dinilai efektif untuk mengurangi kepadatan lalu lintas, seperti yang dilakukan di Jakarta.

Menanggapi hal itu, Hitapriya Suprayitno Pengamat transportasi ITS Surabaya mengatakan, sistem ganjil genap bisa saja diterapkan di Surabaya. Namun, ada hal yang harus dipersiapkan dan perlu diperbaiki. Salah satunya, soal angkutan umum yang tersedia di Surabaya.

Secara tidak langsung, kata dia, penerapan sistem ganjil genap akan mengalihkan masyarakat dari kendaraan pribadi menggunakan angkutan umum. Menurutnya, angkutan umum di Surabaya masih terlalu jauh apabila dibandingkan dengan Jakarta. Mengingat jumlahnya, angkutan umum di Surabaya masih terbatas dan belum semua memiliki fasilitas yang memadai.

Selain itu, keberadaan angkutan umum juga harus ditata dengan baik. Seperti mengatur tempat pemberhentian (bus stop) dan jalur yang akan dilalui angkutan.

"Kalau di Jakarta sudah lumayan angkutan umumnya. Sedangkan di Surabaya masih sedikit sekitar 5 persen. Ada Suroboyo Bus yang termasuk angkutan bagus. Tapi terbatas karena hanya dua rute. Sementara bus lainnya, ada yang tidak ber AC. Kalau pakai taxi, sama saja dong. Intinya, ganjil genap bisa saja diterapkan, tapi sepanjang angkutan umumnya belum bagus, manfaatnya tidak seberapa," kata Hitapriya, saat dihubungi suarasurabaya.net, Rabu (12/9/2018).

Hitapriya menambahkan, penerapan ganjil genap tidak bisa dilakukan di seluruh kota. Hanya di jalan tertentu yang sering menjadi titik kemacetan paling parah. Untuk itu, penerapan sistem ini perlu dipikirkan secara matang. Tidak hanya sekedar memilih jalan yang akan diterapkan, tapi juga perlu memikirkan pengalihan arus dan dampaknya.

"Sistem ini tidak bisa diterapkan sembarangan, hanya jalan-jalan yang memang sering macet. Kalau sudah diterapkan, pasti ada dampaknya. Misalnya diterapkan di Jalan Darmo, hari ini giliran ganjil, yang genap tidak boleh lewat. Akhirnya mereka (genap) bisa saja lewat di jalan yang belakangnya Hotel Mercure dan potensi macet di sana ada. Jadi perlu dipertimbangkan juga, mau diterapkan di mana dan orangnya mau dilarikan ke mana," jelasnya. (ang/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.