KELANA KOTA

Tunjungan Street Art: (Dalam Kurung), Ingatkan Manusia Berhati-hati

Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 14 September 2018 | 13:02 WIB
Sebuah penampilan seni yang memberikan pesan kepada masyarakat luas. Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Seiring perkembangan peradaban saat ini, manusia kehilangan roso, dan hanya mengikuti apa yang sedang terjadi. Padahal belum tentu cocok dengan diri mereka sendiri. Manusia mulai kehilangan kewaspadaan dan cenderung ceroboh.

"Manusia saat ini hanya ikut-ikutan. Apa yang sedang terjadi, maka itu yang mereka lakukan dan kerjakan. Contohnya apa yang sedang dibicarakan di media sosial, maka masyarakat akan mengikutinya. Entah benar atau salah. Ikut-ikutan itu justru jadi bagian gaya hidup," terang Heri Prasetyo operator (Dalam Kurung).

Justru seharusnya, lanjut Heri di tengah kemajuan zaman seperti saat ini manusia semakin kritis dan waspada, berhati-hati menghadapi atau menanggapi segala sesuatu yang terjadi. Bukan malah ikut-ikutan.

"(Dalam Kurung) mengingatkan manusia atau masyarakat agar berhati-hati, waspada. Karena jika tidak, maka inderanya akan menjadi tuna. Kehilangan rasa malu, dan ujungnya berani melakukan hal-hal yang tidak baik. Mereka yang lemah hatinya, akan terkurung keburukan," tegas Heri.

Akan hadir 6 pemain yang menjadi bagian dari naskah (Dalam Kurung) dengan penampilan yang lain dari yang lain. "Pemain akan menutupi wajahnya dengan cikrak, serta akan menutupi kepalanya dengan kurungan," papar Heri.

Cikrak adalah alat rumah tangga terbuat dari bilah Bambu yang biasa dipakai untuk tempat sampah. Sedangkan Kurungan atau biasa dikenal dengan sangkar untuk burung peliharaan. Kedua properti itu dimanfaatkan Heri pada Tunjungan Street Art di Jl. Tunjungan, Surabaya tersebut.

Nantinya, tambah Heri, para pemain akan bergerak lalu mematung, dan sesaat kembali akan bergerak lagi lalu mematung. "Performance pada (Dalam Kurung) memang lebih banyak diam mematung, tanpa gerakan berlebih," pungkas Heri Prasetyo.

Diharapkan dengan street art yang ditampilkan di Jl. Tunjungan, masyarakat atau manusia menjadi lebih menghargai suara hatinya sendiri dan tidak bertindak hanya sekedar mengikuti apa yang sedang terjadi di tengah masyarakat itu sendiri.(tok/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.