KELANA KOTA

Bergerak Independen, Perpustakaan Jalanan Dekatkan Buku dengan Warga

Laporan Agung Hari Baskoro | Jumat, 14 September 2018 | 18:06 WIB
Perpustakaan jalanan di Taman Bungkul, Surabaya. Foto: Instagram Aliansi Literasi Surabaya
suarasurabaya.net - Berada di tempat-tempat umum dengan ratusan buku yang dijajar di atas alas sederhana, perpustakaan jalanan hadir untuk mendekatkan buku dengan warga. Adalah perpustakaan jalanan Aksara dan Tenda Buku, dua komunitas perpustakaan jalanan yang aktif menggelar lapak-lapak baca di keramaian Kota Surabaya.

Dua komunitas yang tergabung dalam Aliansi Literasi Surabaya ini, aktif menggelar lapak bacanya setiap Sabtu dan Minggu di Taman Bungkul dan Kebun Bibit, Surabaya. Selain itu, mereka juga aktif mendatangi event-event dan menggelar lapaknya di sana.

Erwin salah seorang pegiat perpustakaan jalanan Aksara menyebut, pada awalnya ia hanya fokus pada bacaan jenis Zine, sebuah majalah independen yang didesain dan dicetak secara mandiri. Setelah bertemu dengan banyak teman dengan berbagai macam ketertarikan, buku yang digelar pun jadi makin beragam.

Senada dengan itu, Rici salah seorang pegiat tenda buku pada awalnya juga mengoleksi zine dan pada tahun 2015 mulai aktif bersama teman-teman Tenda Buku.

Buku yang ditawarkan pun tak melulu Zine dan buku bertema Sospol. Namun juga novel, buku-buku umum, ensiklopedia dan jenis-jenis buku lain. Mereka juga bercerita, seringkali mereka berhadapan dengan petugas yang mengusir mereka.

"Kendalanya selalu dipikir jualan, jadi diusir petugas. Akhirnya nyoba digabung dengan kegiatan lain seperti workshop cukil kayu, menggambar dan lain-lain," kata Erwin.

Terkait animo mereka menyebut masyarakat cukup banyak yang datang meskipun kadang tidak ramai.

"Rata-rata 40 orang yang datang tiap kali ngelapak," kata Erwin.

Perpustakaan jalanan pun punya cara unik untuk mendapatkan dan menjaga buku-bukunya. Tak seperti perpustakaan konvensional, masing-masing anggota yang memiliki buku membawa bukunya ke perpustakaan jalanan dan ketika usai membawa pulang bukunya masing-masing.

Rici menyebut, "Di tenda buku dan di perpustakaan jalanan lain, tidak ada bos. Tidak ada pemimpin karena kita bekerja sama."

Meski memiliki berbagai macam kendala, Erwin maupun Rici dan anggota perpustakaan jalanan lain memilih tetap berada di jalan independen dan tidak berafiliasi dengan pemerintah atau institusi.

"Apa yang kita punya kita berikan pada orang lain. Berafiliasi dengan pemerintah sepertinya belum. Meskipun, sebenarnya kita juga mendukung program pemerintah secara tidak langsung, yaitu Surabaya sebagai kota literasi. Tapi dengan cara lain," kata Rici. (bas/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.