KELANA KOTA

Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Jatim Terakhir bagi Soekarwo

Laporan Denza Perdana | Jumat, 12 Oktober 2018 | 14:33 WIB
Soekarwo Gubernur Jawa Timur dan sang istri Nina Soekarwo, menangis haru saat rangkaian upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Provinsi Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi Jumat (12/10/2018). Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Rangkaian upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Provinsi Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Jumat (12/10/2018) diwarnai haru.

Setelah penghormatan kepada lambang daerah Provinsi Jawa Timur Jer Basuki Mawa Beya dan lambang penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha dan prosesi upacara lainnya ada sendratari kolosal.

Sendratari Kolosal Kolaborasi berbagai sanggar tari di Jawa Timur itu menutup upacara peringatan HUT ke-73 Provinsi Jawa Timur pagi ini.


Pertunjukan sendratari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Provinsi Jawa Timur. Foto: Denza suarasurabaya.net

Usai pertunjukan ini, Pakde Karwo dan Bude Karwo menerima bunga dari penari dan berfoto bersama di halaman Grahadi.

Salah seorang penyanyi membawakan lagu "Luluh" yang dipopulerkan Grup Band Samson setelah sesi foto selesai.

Isi lagu ini tentang kesedihan karena kepergian seseorang. Pada momen inilah Nina Soekarwo atau yang akrab disapa Budhe Karwo menangis.

Beberapa kali dia menyeka air matanya, sementara Soekarwo Gubernur Jawa Timur sempat memeluk dan mencium keningnya.

Beberapa penari dan peserta upacara lainnya turut larut dalam haru.

Sebelumnya, Pakde Karwo sempat menyampaikan, upacara memang upacara peringatan HUT Provinsi Jatim yang terakhir baginya.

Awal 2019 mendatang, Soekarwo akan mengakhiri tugasnya sebagai Gubernur digantikan oleh Khofifah Indar Parawansa selaku Gubernur Jawa Timur terpilih.

"Sebetulnya saya sangat terharu dengan apreciate teman-teman terhadap kinerja Mas Karwo. Karena selama ini Mas Karwo bekerja tidak sendiri, dibantu teman-teman juga," kata Nina Soekarwo.

Soekarwo yang akrab disapa Pakde Karwo mengatakan, dia sendiri sebetulnya tidak kuat, tapi dia masih mampu menahan agar air matanya tidak turun.

"Orang menangis bukan urusan logika, rasionalitas. Itu emosi dan rasa di dada. Saya sebetulnya enggak tahan, tapi bisa saya empet (tahan, red)," ujarnya.

Pakde Karwo mengatakan, dia merasa sangat dibantu oleh Nina Soekarwo dalam kehidupannya. Terutama dukungan moral yang terus dia dapatkan dari istrinya.

"Saya males sekolah. Menjelang lulus S3 itu, tinggal dua proposal penelitian saya pulang. Saya bilang gak sekolah gak patheken (tidak sekolah tidak masalah). Tapi Bu Nina bilang, iki bukan urusan pathek, iki urusan sabar," ujar Soekarwo.(den/tin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.