KELANA KOTA

BMKG: Gejala Permulaan Titik Gempa Belum Pernah Terjadi di Surabaya

Laporan Agustina Suminar | Jumat, 12 Oktober 2018 | 18:16 WIB
Ilustrasi. Grafis: Gana suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Suwardi Kepala BMKG Tretes / Stasiun Geofisika Kelas II Tretes, Pasuruan, mengatakan hingga saat ini, gejala permulaan titik gempa belum pernah terjadi di Surabaya. Namun sebelumnya, Amien Widodo Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengingatkan kepada Pemerintah Kota Surabaya terkait dua sesar aktif yang berpotensi gempa di Surabaya, yakni Sesar Waru dan Sesar Surabaya.

"Kalau bicara potensi (gempa, red), semua memiliki potensi gempa. Tapi dari hasil penelitian kita, gejala permulaan-permulaan gempanya belum ada di sekitar Surabaya," kata Suwardi kepada suarasurabaya.net, Jumat (12/10/2018).

Ia menjelaskan, berdasarkan pengamatannya selama ini, Surabaya belum memiliki catatan gempa dibandingkan beberapa kota lain di Jawa Timur.

"Kalau di Mojokerto memang ada, sekitar tahun 1836-1837. Pasuruan juga ada. Tapi keduanya pun juga kecil (magnitudonya, red)," tambahnya.

Dibanding Surabaya, lanjut Suwardi, daerah yang seharusnya memiliki perhatian besar terhadap risiko gempa di Jawa Timur adalah daerah di sepanjang pantai selatan.

"Yang lebih besar (potensi gempa, red) di Jawa Timur itu di pantai selatan, seperti Banyuwangi, Tulungagung, Blitar, Pacitan. Ibaratnya sudah masuk kategori merah, kalau yang lain kan ya, kuning lah," imbuhnya.

Meskipun begitu, ia mengimbau masyarakat untuk tetap memahami langkah-langkah mitigasi bencana. Ini dikarenakan Jawa Timur termasuk wilayah yang sering terjadi gempa meski dengan kekuatan yang bervariasi.

"Kalau untuk mitigasi bencana memang wajib dilakukan untuk Kota Surabaya dan sekelilingnya, soalnya (Jawa Timur, red) setahun bisa ratusan (kali gempa, red)," kata Suwardi.

Untuk itu, ia berpesan kepada masyarakat agar paham tentang mitigasi bencana dan apa yang harus dilakukan saat gempa bumi terjadi.

Menurutnya, jika warga sudah paham dan tanggap terhadap gempa, maka risiko kerugian dan jumlah jatuhnya korban bisa diminimalisir. Jangan sampai sosialiasi tanggap bencana dilakukan saat bencana sudah terjadi.(tin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.