KELANA KOTA

Mahasiswa Forensik Unair Bantu Tim DVI Lakukan Identifikasi Jenazah

Laporan Agustina Suminar | Jumat, 12 Oktober 2018 | 18:34 WIB
Mahasiswa Ilmu Forensik Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga ikut ambil bagian dalam proses identifikasi forensik korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Foto: Humas Unairr
suarasurabaya.net - Sebanyak lima mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga ikut ambil bagian dalam proses identifikasi forensik korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Mereka berasal dari mahasiswa magister Ilmu Forensik yang tergerak untuk membantu korban bencana yang terjadi pada Jumat (28/9/2018) itu.

Salah satu dari lima mahasiswa ilmu forensik adalah Pudji Hardjanto. Dari Palu, Pudji memberikan keterangan bahwa mereka berlima bergabung dengan tim Disaster Victims Identification (DVI) Mabes Polri untuk melakukan fungsi identifikasi jenazah korban gempa dan tsunami Palu-Donggala.

"Ada lebih dari 800 jenazah yang telah diidentifikasi. Dalam sehari, identifikasi dapat dilakukan pada sekitar 100 jenazah," ungkapnya.

Pada hari-hari awal setelah bencana terjadi, pembusukan jenazah masih tampak wajar. Memasuki hari ketiga dan seterusnya, keadaan jenazah semakin rusak.

Untuk proses identifikasi, tim DVI hanya mengandalkan sidik jari saja serta properti yang masih melekat di tubuh jenazah.

"Namun, banyak jenazah telanjang yang ditemukan karena pakaian sudah terlepas dan hilang dari jenazah. Salah satu jenazah yang berhasil diidentifikasi adalah warga asing dari Korea yang diidentifikasi melalui sidik jari," paparnya seperti dalam rilis Pers Pusat Informasi dan Humas Universitas Airlangga yang diterima suarasurabaya.net, Jumat (12/10/2018).

Banyaknya temuan jenazah dengan identifikasi forensik yang dilakukan di RS. Bhayangkara Palu menjadikan tidak semua jenazah bisa teridentifikasi dengan baik.

Selain mahasiswa forensik Unair, tim lain yang bekerja di bawah kepolisian antara lain mahasiswa forensik dari dari Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Diponegoro, dan beberapa universitas lain yang memiliki studi forensik.

Saat ini, sesuai dengan pernyataan Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam jumpa pers di kantor BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018) lalu, bahwa evakuasi jenazah dihentikan hari ini, Jumat (12/10/2018) identifikasi forensik juga telah ditutup.

"Karena memang jenazah sulit untuk dikenali," terangnya.

Selanjutnya, tim DVI melakukan identifikasi jika ada konflik yang menyangkut hukum. Seperti yang pernah terjadi, perebutan jenazah dari dua keluarga karena kondisi jenazah yang mirip melalui identifikasi pada DNA.

Sementara menunggu identifikasi terkait konflik tersebut, kegiatan yang dilakukan saat ini adalah melaksanakan fungsi sosial dengan mendatangi pengungsi-pengungsi terkait kebutuhan yang mereka butuhkan.

"Kami menyalurkan bantuan kepada para pengungsi, termasuk bantuan yang datang dari Unair dalam bentuk tenda dan bahan makanan," katanya.

Pudji mengatakan, ia berusaha membantu masyarakat korban bencana di sana dengan bantuan yang tidak hanya berupa materi tapi juga moril.

"Ketika kami bertemu pengungsi, kami komunikasi ke mereka, memberikan harapan baik, memberikan semangat kepada mereka bahwa kami semua berbagai elemen membantu," ungkapnya.

Ia juga menjelaskan kondisi terkini di Palu-Donggala dalam kegiatan ekonomi sudah mulai membaik. Penjual makanan mulai dapat dijumpai, berbagai toko mulai dibuka, BBM hingga pasokan listrik juga lancar.

"Bantuan tidak seperti kemarin-kemarin yang harus mencari kesana-kemari. Sekarang sudah banyak bantuan datang," ungkapnya.

Sementara itu, Prof., Dr., Anwar Ma'ruf, drh., M.Kes Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana Unair mengatakan, pemberangkatan para mahasiswanya ini untuk membantu proses identifikasi jenazah di Palu-Donggala melalui Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Unair.

Pemberangkatan mahasiswa ini didampingi oleh Christrijogo Sumartono, dr., Sp.An.KAR Ketua Prodi Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Unair dengan Kapal Ksatria Airlangga.

"Adanya kapal ini, Sekolah Pascasarjana Unair dapat aktif memberikan bantuan, baik dari segi manajemen bencana maupun forensik. Mahasiswa yang diberangkatkan juga bisa membantu sambil belajar," pungkasnya. (nin/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.