KELANA KOTA

Islamophobia di Jerman Terus Meningkat Seiring Bertambahnya Imigran

Laporan Agustina Suminar | Kamis, 08 November 2018 | 20:59 WIB
Seorang imigran beribadah di penampungan sementara di gedung olahraga di Hanau, Jerman, Selasa (29/9/2018). Foto: Reuters
suarasurabaya.net - Prasangka buruk terhadap orang Muslim, migran dan pencari suaka telah meningkat tajam di Jerman, menurut hasil studi yang dilakukan Leipzig University.

Hampir 55 persen orang Jerman menyatakan mereka merasa seperti orang asing di negeri mereka sendiri sebab begitu banyak orang Muslim. Pada 2010, sebelum krisis pengungsi muncul, 33 persen responden memiliki pandangan seperti itu.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa kebencian terhadap orang asing kian tersebar luas di seluruh Jerman.

Di antara 36 persen orang yang dimintai tanggapan, mereka mengatakan mereka menganggap Jerman dalam keadaan bahaya karena dipenuhi orang asing.

Lebih seperempat dari mereka mengatakan, mereka percaya orang asing mesti dikirim kembali ke negara asal mereka kalau terjadi kekurangan lapangan kerja di Jerman, demikian dilaporkan kantor berita Anadolu, yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis (8/11/2018) pagi.

Profesor Elmar Braehler, yang melakukan penelitian itu bersama dengan Dr. Oliver Decker, mengatakan xenofobia dan praduga buruk terhadap orang Muslim menyulut lonjakan partai sayap kanan-jauh Alternative for Germany (AfD).

"Rakyat yang memiliki pandangan kanan-jauh sekarang berpaling dari Uni Kristen Demokrat dan Partai Sosial Demokrat dan menemukan rumah baru di AfD," katanya dilansir Antara.

AfD, yang mengesahkan retorika terbuka anti-Islam, berkilah bahwa negeri itu 'berada di bawah ancaman Islamisasi. Terutama setelah hampir satu juta pengungsi yang kebanyakan dari Suriah dan Irak, tiba di negeri tersebut sejak 2015.

Jerman, negara dengan lebih dari 81 juta warga, memiliki warga Muslim paling banyak kedua di Eropa Barat setelah Prancis. Di antara hampir 4,7 juta orang Muslim di negeri itu, tiga juta berasal dari Turki.

Selama beberapa tahun belakangan ini, negeri tersebut telah menyaksikan peningkatan Islamofobia dan kebencian terhadap migran akibat propaganda dari partai sayap kanan-jauh dan populis. Hal itu juga telah memanfaatkan ketakutan akibat terorisme dan krisis pengungsi.(ant/tin/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.