KELANA KOTA
Darah Pahlawan di Tubuhku

Kisah Relawan PMK, Pernah Dipukul Helm Sampai Dimarahi Warga

Laporan Agung Hari Baskoro | Jumat, 09 November 2018 | 11:41 WIB
Andrew Wijaya Hidayat relawan PMK. Foto: Tim grafis Suara Surabaya
suarasurabaya.net - Menjadi relawan memang tak pernah mudah. Butuh ketulusan dan konsistensi tinggi untuk menekuninya. Alih-Alih mendapat banyak pujian dan penghargaan, seorang relawan malah bisa mendapat umpatan dan pukulan.

Itu pula yang dirasakan Andrew Wijaya Hidayat. Pria yang sudah menjadi relawan PMK Surabaya sejak 2012 ini, telah merasakan pahit-manisnya jadi relawan. Ia pernah dipukul helm ketika membantu membukakan jalan Mobil PMK. Ia juga pernah dimarahi warga ketika meminta mereka memberi akses masuk mobil PMK yang bertugas.

Kisah awal mula tergeraknya Andrew jadi seorang relawan PMK cukup menarik. Berawal dari profesinya sebagai jurnalis media cetak di tahun 2012, suatu ketika ia ditugaskan meliput kebakaran rumah di daerah Petemon, Surabaya. Disana, ia melihat api yang melahap habis rumah tersebut. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat pemilik rumah yang menangis hebat karena sedih dan bingung melihat rumahnya yang terbakar habis.

Di lain pihak, ia juga melihat kesadaran masyarakat ketika terjadi kebakaran masih rendah. Kebanyakan dari mereka, datang ke lokasi hanya untuk mendokumentasikan kejadian dan bergerombol. Terkadang, petugas menjadi kesusahan masuk dan bertugas karena hal itu.

Disana, ia bertemu dengan Ari Subekti kepala UPTD I PMK Surabaya saat itu. Di tahun yang sama, ia berkenalan dengan Chandra Oratmangun Kepala Dinas PMK Surabaya saat itu. Dari merekalah, Andrew belajar banyak tentang kegiatan PMK sehari-hari.

Sejak saat itu, ia tergerak untuk menjadi seorang relawan PMK. Ia mulai sering datang ke lokasi kebakaran untuk membantu petugas. Di lokasi, ia biasanya ikut memberikan dukungan moral ke korban. Ia juga berusaha untuk menyadarkan warga agar tidak bergerombol di depan lokasi kebakaran.

Tak hanya di lokasi, Ia juga sering membantu PMK membuka jalan di kemacetan dan membantu menginformasikan adanya kebakaran lewat Facebook e100 Suara Surabaya.

Tapi semua niat dan perbuatan baiknya, tak selalu berbuah baik. Ketika bertugas, ia sering mendapat sambutan tidak menyenangkan.

"Misalkan ketika saya memberi tahu, warga kadang marah. saya pernah hampir dipukuli ketika ada kebakaran di daerah Kenjeran. Terus pernah dipukul menggunakan helm oleh pendemo di Jalan A.Yani ketika berusaha membantu membukakan jalan mobil-mobil PMK," katanya.

Kini, ia tak lagi menjadi jurnalis. Ia sekarang bekerja di sebuah pabrik speaker aktif di daerah Ngagel, Surabaya. Namun, semangatnya menjadi relawan PMK tak pernah padam. Setiap hari, ia masih memantau informasi kebakaran dari HT kecil miliknya. Ketika ada informasi kebakaran, ia dengan sigap menginformasikannya ke Facebook e100 Suara Surabaya. Ia juga langsung bergegas berangkat ke lokasi kebakaran.

Andrew adalah salah satu pahlawan masa kini. Ia tak perlu memegang senjata turun ke gelanggang perang. Namun, ia mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membantu petugas PMK menjalankan tugasnya.

"Nilai kepahlawanan yang harus dimiliki pahlawan masa kini adalah Respect. Respectlah, khususnya dalam kasus pemadam kebakaran. Mulai di jalanan hingga lokasi kebakaran. Ini bersangkutan dengan nyawa orang banyak," katanya. (bas/tin/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.