KELANA KOTA

Hari Psoriasis Sedunia 2018, Kepercayaan Diri Pasien Jadi Fokus Utama

Laporan Anggi Widya Permani | Jumat, 09 November 2018 | 18:46 WIB
Anggota perhimpunan dokter spesialis kulit dan kelamin cabang Surabaya usai menggelar talkshow bersama pasien psoriasis pada Hari Psoriasis Sedunia 2018, Jumat (9/11/2018). Foto: Anggi suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - dr Afif Nurul Hidayati Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RSUD Dr Soetomo mengatakan, kepercayaan diri pasien psoriasis akan menjadi fokus utamanya dalam peringatan Hari Psoriasis Sedunia 2018. Hal ini merujuk pada banyaknya penelitian yang menyatakan, banyak pasien yang ditemukan kepercayaan dirinya rendah dan sedang.

Ada sekitar 90 persen pasien, kata dia, mengalami depresi. Kemudian data lain juga menyebutkan, 97 persen pasien penyakit psoriasis juga bisa menganggu kualitas hidupnya. Menurutnya, angka tersebut tidak boleh diabaikan. Sebab, stres merupakan salah satu faktor munculnya psoriasis selain faktor kelainan genetik.

"Peringatan Hari Psoriasis Sedunia 2018, kami tenaga medis beserta beberapa support dari LSM akan berupaya, agar pasien psoriasis mendapatkan hidup yang bahagia. Jangan sampai stres, karena itu pemicu munculnya psoriasis. Ini penting sekali dibandingkan faktor kelainan genetik," kata Afif, Jumat (9/11/2018).

Afif mengakui, beberapa masyarakat masih belum aware dengan penyakit psoriasis. Masih banyak yang beranggapan, bahwa penyakit ini sama dengan penyakit kulit lainnya yang dianggap bisa menular. Tidak heran, beberapa pasien merasa cemas dan kurang percaya diri. Sebab orang yang ada disekitarnya berusaha menjauhinya. Dengan alasan, takut tertular.

Padahal, penyakit kulit yang satu ini tidak menular. Namun dibalik sifatnya yang tidak bisa menular, psoriasis ini merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Tapi penyakit ini bisa dikontrol dengan cara mencegah terjadinya stres pada pasien.

Untuk itu, diharapkan masyarakat bisa membuang stigma psoriasis yang dianggap sebagai penyakit menular. Sudah semestinya, bisa memberikan dukungan kepada pasien untuk hidup lebih bahagia dan tidak perlu lagi menjauhinya karena takut tertular.

"Beda sama jamur ataupun alergi. Penyakit ini kambuh-kambuhan. Jadi tidak bisa disembuhkan karena faktor genetik. Tapi bisa dikontrol kok. Salah satunya memberikan perawatan yang baik terhadap pasien. Yang paling utama adalah menghindarkan pasien dari segala hal yang menyebabkan dia stres. Karena kalau sudah stres, psoriasis ini akan muncul," jelasnya.

Kurangnya pengetahuan tentang psoriasis di lingkungan masyarakat, membuat beberapa pasien juga menjadi salah arah dalam hal pengobatannya. Tidak sedikit, penyakit bercak merah disertai sisik putih menebal ini sering dikaitkan dengan hal-hal mistis dan tidak dikonsultasikan kepada tenaga medis.

Dengan kepercayaan itu, sebagian pasien yang salah arah sering merasa stres karena penyakitnya tidak kunjung sembuh. Sehingga, psoriasis pun semakin menjadi dan melebar di beberapa bagian tubuhnya.

"Mirisnya, pasien yang kurang tahu soal psoriasis ini dikaitkan dengan hal mistis. Bukan ke dokter, tapi malah ke dukun. Jadinya ya tidak ada perubahan apapun. Sebaiknya, kalau ada tanda-tanda bercak merah terus bersisik langsung dibawa saja ke dokter kulit yang memang lebih kompeten soal kulit," imbaunya.

Afif menjelaskan, penyakit ini dapat timbul pada seluruh kelompok usia, baik usia muda maupun usia tua. Akan tetapi, penyakit ini lebih jarang terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Sering terjadi pada usia antara 15 sampai 30 tahun dan bisa dikatakan tidak ada perbedaan prevalensi psoriasis pada pria dan wanita. Dengan masa puncak onset penyakit usia 30-39 tahun dan usia 50-69 tahun.

Di Indonesia, kata dia, terdapat 198 kasus psoriasis (0,97 persen) di RSUP Dr. Kariadi Semarang selama rentang waktu 5 tahun (2003-2007). Sedangkan pada sebuah penelitian di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, terdapat 21 pasien psoriasis pustulosa generalisata dari pengamatan selama 11 tahun (1 Januari 2001 - 31 Desember 2011).

"Mayoritas umurnya 20-30 an. Tapi akhir-akhir ini sudah mulai banyak ke anak-anak, bahkan bayi. Ke depan kami akan terus galakkan sosialisasi terkait psoriasis, apa itu penyakitnya, gejalanya dan penanganannya," kata dia. (ang/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA