KELANA KOTA

Dua Anak Putus Sekolah yang Ngelem akan Ditampung di Kampung Anak Negeri

Laporan Zumrotul Abidin | Senin, 19 November 2018 | 19:03 WIB
Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya menemui lima anak yang tertangkap mabuk lem di Kantor Satpol PP, Senin (19/11/2018). Foto: Abidin suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya mengatakan, fenomena mabuk lem di kalangan pelajar terjadi karena pengaruh lingkungan. Dari hasil pemeriksaan psikolog, lima anak tersebut diketahui memang mempunyai masalah dengan keluarga.

"Jadi mereka dulunya punya masalah dengan keluarga," ujar Risma usai observasi lima remaja yang tertangkap ngelem, Senin (19/11/2018).

Menurut Risma, untuk menyelesaikan masalah anak, juga harus diimbangi dengan menyelesaikan masalah keluarga.

"Jadi kita nanti akan selesaikan masalah-masalah dengan para orang tuanya. Tadi saya juga sudah nitip ke (pihak) sekolah, agar dia bisa diterima kembali," katanya.

Dari lima anak yang tertangkap ngelem, dua anak di antaranya sudah putus sekolah. Risma akan mengambil kebijakan. Pemkot Surabaya akan menangani lebih lanjut. Agar ke depannya, anak-anak ini tidak kembali mengulangi perbuatannya dan mau kembali bersekolah.

"Nanti mungkin saya tawarkan dia tinggal di kampung anak negeri. Supaya anak-anak ini mungkin punya talenta apa bisa kita kembangkan dan masih bisa sekolah," katanya.

Risma menyampaikan permasalahan anak-anak tersebut, terjadi karena adanya pengaruh dari luar. Biasanya terjadi pada anak-anak putus sekolah. Sehingga anak-anak tersebut tidak mempunyai kesibukan dan kemudian terpengaruh dengan hal-hal negatif.

"Anak-anak ini tidak punya kesibukan. Dan ini kemudian mempengaruhi anak-anak lain. Ini yang paling saya takutkan (dampak) anak putus sekolah itu," katanya. (bid/dim)
Editor: Ika Suryani Syarief



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.