KELANA KOTA

Tiga Sektor yang Menjadi Sasaran Radikalisme Menurut Densus 88 Antiteror

Laporan Denza Perdana | Rabu, 21 November 2018 | 15:41 WIB
Brigjen. Pol. Martinus Hukom Wakil kepala Densus 88 Anti Teror dalam Terorism Threat on Asean +3 Region, Rabu (21/11/2018) di Kampus Universitas Airlangga Surabaya. Foto: Dimas suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Radikalisme dan terorisme saat ini perlu mendapat perhatian khusus karena sudah menyasar berbagai sektor. Itu seperti diungkapkan Brigadir Jenderal Polisi Martinus Hukom Wakil kepala Densus 88 Antiteror dalam seminar Terorism Threat on Asean +3 Region, Rabu (21/11/2018) di Kampus Universitas Airlangga Surabaya.

Martinus menekankan ada tiga sektor utama yang menjadi sasaran penyebaran radikalisme di Indonesia. Berikut ini penjelasan tiga sektor yang dia sebutkan dalam seminar itu.

Pendidikan

Kata Hukom, jangan heran jika kampus tersusupi paham radikal. Bahkan berbagai riset pun mengungkapkan hal serupa.

"Di kampus, masjid kampus, musala kampus, juga menjadi sarang radikalisme. Bahkan dulu ISIS mendeklarasikan diri di salah satu kampus di Jakarta," terangnya.

Di Lapas/Penjara

Martinus Hukom mengatakan, penyusupan paham radikal juga terjadi di penjara. Dia menjelaskan, memang pada awalnya napi yang masuk merupakan kriminal, tanpa tendensi khusus sebagai radikal.

"Awalnya dia kriminal, terus mendapat paham itu di penjara, kemudian melakukan penyerangan. Ya, itu seperti penyerangan yang terjadi di Lamongan kemarin," sebutnya.

Buku atau Buletin

Selain itu, menurutnya penyebaran paham radikalisme juga bergantung pada sumber informasi yang diterima masyarakat. Kata Hukom ada kesenjangan masyarakat dalam mengakses buku dan sumber informasi. Buku/buletin bermuatan radikalisme umumnya sangat gampang dijumpai, murah, bahkan gratis.

"Mirisnya ada kesenjangan informasi di masyarakat, dimana buku moderat dijual dengan harga mahal, sedangkan buku radikal gampang ditemukan, dan berharga murah. Bahkan saat ini arah penulis pun sudah berubah, penulis moderat berfokus pada keuntungan, sedangkan para pembuat buletin atau buku radikal berfokus pada penyebaran paham," jelasnya.

Menanggapi hal itu, dia berpesan kepada masyarakat, khususnya peserta seminar untuk tetap berhati-hati dalam menerima informasi serta tidak mudah tersulut konflik.

"Kita harus tetap waspada dengan penyusupan paham. Serta mari kita jaga, jangan sampai terjadi konflik di sekitar kita," pungkasnya. (dim/nin)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA