KELANA KOTA

Risma Paparkan Solusi Sampah di Surabaya di The Guangzhou International Award

Laporan Iping Supingah | Jumat, 07 Desember 2018 | 18:53 WIB
Risma Walikota Surabaya saat menyampaikan paparannya dalam Guangzhou International Award di China, Kamis (6/12/2018). Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Di hadapan 400 juri dan 14 finalis The Guangzhou International Award 2018, Tri Rismaharini Walikota Surabaya menyampaikan paparan presentasinya, bagaimana perkembangan Surabaya yang terus berinovasi menuju kota Sustainable Development Goals (SDGs).

Berdasarkan rilis yang diterima suarasurabaya.net, dalam pemaparannya, Risma mengungkapkan, pada tahun 2003, Surabaya mengalami masalah besar sampah. Saat itu, Surabaya dikenal sebagai kota yang panas, kering, dan sering banjir selama musim hujan. Hampir 50 persen dari total wilayah Surabaya banjir pada waktu itu.

"Mengatasi masalah ini, kami mengajak partisipasi masyarakat yang kuat untuk bekerja bahu membahu dengan pemerintah kota dalam melakukan pengelolaan limbah. Karena kami memiliki masalah besar untuk diselesaikan, tetapi dengan anggaran terbatas yang tersedia," kata Risma Walikota Surabaya saat menyampaikan paparannya dalam Guangzhou International Award di China, Kamis (6/12/2018).

Risma juga menjelaskan mengenai program pengolahan sampah yang berkonsep 3R (Reuse, Reduce dan Recycle) di Surabaya yang melibatkan masyarakat. "Partisipasi publik yang kuat menjadi faktor utama keberhasilan Kota Surabaya dalam mengatasi permasalahan sampah," ujarnya.

Metode pengomposan sederhana dengan biaya rendah juga diperkenalkan ke masyarakat dengan menggunakan keranjang Takakura di setiap rumah. Kata Risma, bahkan, warga mulai diajak mendirikan bank sampah. Serta, mendaur ulang sampah anorganik menjadi produk yang bernilai ekonomis untuk dijual dan mendapatkan penghasilan tambahan.

Risma mengatakan Surabaya juga bekerja sama dengan mitra internasional dalam metode pengelolaan limbah, termasuk Kota Kitakyushu untuk pengomposan dan pemilahan sampah, serta Swiss untuk penggunaan lalat hitam dengan tujuan mengurangi sampah organik.

"Metode lalat hitam dilaksanakan di tingkat rumah tangga. Sementara pengomposan, dilaksanakan di tingkat kelurahan dan kota," jelasnya. (dim/ipg)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.