KELANA KOTA

Lengkapi Pembelajaran Topography, Dosen ITS Kembangkan Top AR

Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 07 Desember 2018 | 20:34 WIB
Joni Hermana Rektor ITS (kanan) saat melihat pengembangan Top AR. Foto: Humas ITS Surabaya
suarasurabaya.net - Agung Budi Cahyono ST MSc, Dosen Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, mencoba mengembangkan Topography Augmented Reality (Top AR) di Indonesia.

Topografi merupakan suatu studi terperinci mengenai bentuk dan fitur permukaan bumi. Top-AR sendiri merupakan sebuah sistem yang memperlihatkan degradasi warna sebagai representasi perbedaan ketinggian, bentuk, kerapatan garis kontur, serta simulasi gerakan air di muka bumi.

"Produk ini ideal untuk digunakan sebagai alat pembelajaran langsung tentang ilmu kebumian," terang Agung.

Agung menjelaskan, sistem ini terdiri dari empat komponen yakni komputer, sensor, proyektor, dan media pasir.

Top AR ini bekerja dengan cara memindai pergerakan pasir melalui sensor, kemudian mentransfer hasil pindaian tersebut ke komputer. Komputer akan memilah ketinggian permukaan pasir.

Hasilnya adalah bentuk visualisasi warna dan garis kontur yang nantinya akan divisualisasikan ke pasir melalui proyektor. "Sistem ini memungkinkan pengguna dapat membuat model permukaan topografi secara riil," kata Agung.

Top AR ini merupakan prototype yang pembuatannya kali pertama dilakukan di University of California Davis, Amerika Serikat dengan nama Arsandbox.

Berdasarkan website pembuat Arsandbox tersebut, hanya terdapat satu pendaftar pengembangan Top-AR di Indonesia. "Dan itu dikembangkan di Surabaya, tepatnya di ITS ini," kata Agung.

Dikatakan Agung, prototype ini sudah pernah dipamerkan di beberapa acara yang dihelat oleh Departemen Teknik Geomatika ITS, sejumlah seminar internasional geospasial, bahkan hingga telah dipesan oleh museum PT Timah Indonesia di Pangkal Pinang.

Agung pun berharap, Top AR ini dapat memberikan manfaat khususnya kepada pelajar dan masyarakat Indonesia dalam meningkatkan pemahaman mengenai permukaan bumi. Ia juga menegaskan, masih akan terus mengembangkan sistem tersebut bersama timnya.

"Ini masih versi 1.0, ke depannya akan diperbaiki dengan beberapa hal agar tingkat akurasi serta visualisasinya menjadi lebih baik," pungkas Agung yang juga alumni Universite de La Rochelle, Prancis ini.(tok/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.