KELANA KOTA

Refina Masih Koma, Polisi Sudah Memeriksa Rekaman CCTV

Laporan Denza Perdana | Selasa, 11 Desember 2018 | 23:15 WIB
Indah Susiloreni ibu Refina Nirmala, yang diduga korban penjambretan di MERR, saat menunggu di depan pintu ROI JGD RSUD Dr Soetomo. Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Refina Nirmala (25 tahun) gadis yang jatuh dari motor diduga korban penjambretan di depan Galaxy Mall, Jalan Darmahusada Indah, MERR Surabaya, Jumat (7/12/2018) lalu, masih koma.

Gadis yang baru saja lulus dari Universitas Negeri Airlangga (Unair) Surabaya tahun ini belum siuman dari koma akibat luka berat di bagian kepala dan masih menjalani perawatan intensif di Ruang Observasi Intensif (ROI) Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Dr Soetomo.

Indah Susiloreni, ibu korban, ketika ditemui di ruang tunggu ROI IGD RSUD Dr Soetomo, Selasa (11/12/2018) malam, mengatakan, sejumlah operasi telah dilakukan oleh dokter-dokter yang menangani putrinya.

"Kami masih menunggu operasi lanjutan pembuatan lubang pernapasan," ujarnya kepada suarasurabaya.net. Operasi yang dia maksud adalah trakeostomi.

Indah yang mengenakan hijab putih saat ditemui di ruang tunggu tampak masih memegang buku doa dan tahlil. Dia mengatakan, akan terus mendoakan yang terbaik untuk putri sulungnya.

Wilfa Nawiroh (25 tahun), teman Refina yang juga menjadi korban kecelakaan (saat kejadian mengendarai motor membonceng Refina) kebetulan saat itu juga ada di ruang tunggu menemani ibu temannya itu.

Wilfa yang melakukan pelaporan polisi sejak kecelakaan itu terjadi bersama Eureka, teman mereka yang saat kejadian juga ada di lokasi. Wilfa mengatakan, polisi sudah memeriksa sejumlah rekaman CCTV dari pihak Galaxy Mall.

Ada dua kamera yang merekam kecelakaan itu. Satu rekaman dari kamera CCTV di bagian atas gedung, satu lagi dari kamera yang ada di ATM center di lantai bawah. Menurutnya, rekaman gambar itu belum bisa menjelaskan penyebab kecelakaan ini.

"Polisi sudah menyimpulkan, kecelakaan ini karena tabrak lari. Tapi gambar yang terekam tidak terlalu jelas. Dari atas terhalang pohon, yang di bawah ketutup mobil," kata teman kuliah Refina di Unair.

Senin kemarin, Wilfa menyaksikan rekaman CCTV itu didampingi petugas Unit Reserse Kriminal Polsek Mulyorejo. Di hari yang sama, Wilfa juga mengikuti olah TKP dengan Unit Laka Lantas Satlantas Polrestabes Surabaya.

Karena minimnya bukti-bukti bahwa Refina korban penjambretan, kecelakaan itu pada akhirnya tetap ditangani oleh Unit Lakalantas Satlantas Polrestabes Surabaya.

AKP Antara Kanit Lakalantas Polrestabes Surabaya menyatakan, pihaknya telah meneruskan laporan kecelakaan Refina kepada Jasa Raharja berkaitan santunan korban kecelakaan.

"Yang penting korban dapat tertangani dulu," ujarnya via telepon.

Bila pun di kemudian hari ada keterangan dari korban Refina bahwa saat kejadian memang ada upaya penjambretan, kata Antara, polisi akan tetap menindaklanjuti.

Meski demikian, dia mengingatkan kepada pelaku yang menabrak Refina dan Wilfa yang kabur dari lokasi bahwa ada pidana yang mengancamnya bila tidak segera melapor ke polisi.

Sesuai Pasal 312 Undang-Undang 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pengendara yang terlibat kecelakaan tapi tidak menghentikan kendaraan terancam pidana paling lama 3 tahun penjara dan denda paling banyak Rp75 juta.

Bila akibat kelalaiannya korban kecelakaan mengalami luka berat, pasal 310 di UU yang sama akan mengancamnya dengan pidana paling lama 5 tahun penjara dan denda paling banyak Rp10 juta.

"Maka kami ingatkan untuk penabrak agar segera melapor ke pihak kepolisian, daripada nanti di kemudian hari kalau tertangkap hukumannya akan lebih berat," kata AKP Antara.(den)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.