KELANA KOTA

BNN Gagalkan Peredaran 20 Ribu Ekstasi di Surabaya

Laporan Muchlis Fadjarudin | Rabu, 12 Desember 2018 | 13:15 WIB
Irjen (Pol) Arman Depari Deputi bidang Pemberantasan BNN saat menunjukkan pelaku dan barang bukti di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (12/12/2018). Foto: Faiz suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Badan Narkotika Nasional (BNN) beserta Bea dan Cukai berhasil mengungkap peredaran gelap narkotika jenis ekstasi jaringan Kendari - Tanjung Pinang - Surabaya.

Irjen (Pol) Arman Depari Deputi bidang Pemberantasan BNN mengatakan informasi awal ribuan ekstasi ini berasal dari Malaysia kemudian masuk ke Tanjung Pinang dan selanjutnya dibawa ke Surabaya.‎

Kata Arman, setelah Tim melakukan penyelidikan, maka ditangkaplah empat orang di sebuah hotel di kawasan Baratajaya Surabaya Jawa Timur.

"Tim berhasil mengungkap pada hari Kamis tanggal 6 Desember 2018 sekitar pukul 02.00 WIB, kemudian tanggal 7 sampai 9 Desember dilakukan penyerahan dibawah pengawasan ke surabaya," ujar Arman di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (12/12/2018).


Modus operandi penyelundupan ekstasi ini, kata dia, Narkotika tersebut di press dengan menggunakan mesin vacuum dan ditempel di badan menggunakan korset/boddy wrapping

Para tersangka yang ditangkap, masing-masing Saipul P(Suami),
Fitriani M(Istri), Asmanto dan Ismawan W.

Sedangkan barang bukti yang diamankan adalah 5 bungkus ekstasi warna biru, 6 bungkus ekstasi warna oranye dengan jumlah total 20 ribu butir. Selain itu barang bukti lainnya adalah mesin vacuum merek Kris, mesin press plastik dan plastik press

Untuk kronologis penangkapan, menurut Arman, Tim BNN mendapat informasi tentang adanya kegiatan pereredaran gelap narkotika di Tanjung Pinang kemudian tim berkoordinasi dengan tim bea cukai pusat dan tim bea cukai Tanjung Pinang untuk dilakukan penindakan. Selanjutnya dilakukan penangkapan dengan teknik control delivery (CD) ke surabaya dan berhasil menangkap para tersangka.

"Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan pasal 114 ayat (2), pasal 112 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1), Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika, dengan ancaman maksimal pidana mati," tegasnya.(faz/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA