KELANA KOTA

Penguasaan Pihak Swasta Mempersulit Perawatan Situs Cagar Budaya Jalan Tunjungan

Laporan Fatkhurohman Taufik | Selasa, 16 Mei 2017 | 11:28 WIB
Ilustrasi. Jalan Tunjungan Surabaya. Foto: dok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Wawan Ardian Suryawan, Dosen Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya mengatakan kawasan Jalan Tunjungan sejatinya masuk situs kawasan cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.

"Yang masuk cagar budaya memang hanya tiga bangunan, Siola, Hotel Majapahit, dan Gedung Monumen Pers Perjuangan Surabaya. Namun seluruh bangunan di sana sebenarnya masuk situs cagar budaya," kata Wawan, ketika berbincang dengan suarasurabaya.net, Selasa (16/5/2017).

Menurut dia, menjaga warisan budaya Jalan Tunjungan bukanlah perkara mudah. Jika di Eropa, kota lama dikuasai pemerintah, namun di Surabaya mayoritas bangunan lawas masih dikuasai pihak swasta. Pemerintahpun hanya bisa memberikan subsidi bagi pemilik bangunan agar mempertahankan gaya kolonial gedung-gedung mereka.

"Kesulitannya tidak semua pemilik mau bersama dengan pemerintah kota. Jadi pemerintah banyak memberikan bantuan, tapi kesadaran pemilik bangunan masih kurang," kata dia.


Banyaknya gedung di Jalan Tunjungan yang mangkrak tidak aktif menjadikan Koridor Jalan Tunjungan sulit untuk mendatangkan minat wisata. Ini tentu berbeda dengna kawasan kota tua di beberapa negara yang hampir seluruh gedung memiliki aktivitas, atau minimal menjual aneka produk lokal yang bisa dinikmati para pengunjung.

Wawan juga mengatakan, ide menghidupkan Jalan Tunjungan dengan memasang jalur trem juga masih penuh perdebatan. "Kalau trem dipasang berarti lajur jalan akan berkurang. Saya kawatir nanti malah terjadi kemacetan karena belum menjamin trem akan layak dipakai masyarakat umum," kata dia.

Sekadar diketahui di Jalan Tunjungan ini bakal digelar kegiatan Surabaya Urban Culture Festival (SUCF) 2017 pada Minggu, 21 Mei, mulai pukul 15.00 WIB - 22.00 WIB. Tema SUCF 2017 kali ini: Tunjungan Awake. Sesuai tema, festival budaya urban Surabaya ini berupaya membangkitkan Tunjungan sebagai bagian dari sejarah Surabaya.

Kata Awake dalam bahasa Inggris berarti "bangun." Sebuah spirit kebangkitan. Sedangkan dalam Bahasa Jawa, kata itu berarti "tubuhnya," yang merujuk pada Tunjungan sebagai bagian tubuh Kota Surabaya.

SUCF 2017 berupaya mengajak kaum urban di Surabaya untuk bangkit dengan ide-ide kreatif, lalu mengaplikasikannya sebagai bagian dari kegiatan sosial dan ekonomi di Surabaya, di tengah era Milenial.(fik/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.