KELANA KOTA

Nekat "Melawan" Sang Guru, Karena Merasa Ditantang

Laporan Dwi Yuli Handayani | Senin, 11 Februari 2019 | 12:00 WIB
Siswa SMP Wringinanom Gresik meminta maaf kepada gurunya di Polsek Wringinanom ini, Minggu (10/2/2019). Foto: Istimewa
suarasurabaya.net - Siswa Klas 9 di SMP Wringinanom Gresik, videonya viral karena berani menantang gurunya mengaku, awalnya ditantang dan dipanas-panasi teman-temannya, berani tidak untuk menantang sang Guru.

Mahin Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik menjelaskan, kejadian ini berawal dari gerombolan dari anak-anak sebelum pukul 07.00 WIB, AA bersama teman-temannya sempat berkumpul di warung dekat sekolah.

Kemudian, Nur Khalim (guru) melihat ada beberapa sepeda, tapi tidak ada siswa di kelas langsung mencari ke sekitar sekolah. Ternyata Khalim menemukan para siswa itu berada di warung.

"Nur Halim kemudian minta anak-anak itu masuk sekolah, kalau tidak orang tua mereka akan dipanggil. Lalu anak-anak ini mau masuk ke sekolah. Tapi si AA ini malah diobong-obongi temannya, berani nggak, berani nggak sama guru ini. Akhirnya si AA ini berani merokok dan bersikap meremehkan Nur Halim sebagai guru," kata Mahin pada Radio Suara Surabaya, Senin (11/2/2019).

Melihat perbuatan AA tersebut, kata dia, Nur Khalim mengingatkan bahwa kejadian itu bisa membahayakan AA.

"Tanggal 4 Februari AA sudah minta maaf ke Nur Halim dan AA juga sudah membuat surat pernyataan karena memang kejadian itu tanggal 2 Februari lalu. Tapi tiba-tiba 9 Februari video tersebut beredar viral. Sebelum viral, belum ada pertemuan antara guru dan orang tua," ujar dia.

Mahin sangat menyayangkan kejadian ini, karena bisa mencoreng nama daerah. "Kepala sekolah dan guru di sekolah yang bersangkutan harus meningkatkan pembinaan siswa. Dan kami juga minta agar guru-guru meningkatkan koordinasi dengan pihak keluarga. Pendidikan itu tidak hanya tanggung jawab lembaga atau sekolah," tambahnya.

Terkait desakan publik yang meminta AA dikeluarkan dari sekolah, karena kenakalan dan perilaku yang diluar batas, kata Mahin pihaknya tidak bisa mengambil sikap itu karena kewenanganan Yayasan, mengingat peristiwa ini terjadi di sekolah swasta.

Kata Mahin, sebagai pendidik pasti Guru dan pihak sekolah akan mengutamakan aspek pendidikan, sekalipun perbuatan AA dinilai tidak bisa dianggap biasa karena diluar batas kewajaran seorang siswa kepada Gurunya.(dwi/rst)
Editor: Restu Indah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.