KELANA KOTA

Buka Acara Kemendikbud, Jokowi Dominan Paparkan Pembangunan Infrastruktur

Laporan Muchlis Fadjarudin | Selasa, 12 Februari 2019 | 16:53 WIB
Joko Widodo (Jokowi) Presiden memberi kenang-kenangan kepada perwakilan dari kepala dinas pendidikan, masing-masing Desi dari Kabupaten Sabang dan Mathias dari Kabupaten Bovendigul. di Pusdiklat Pegawai Kemendikbud, Jalan Raya Ciputat, Parung, Depok, Jawa Barat, Selasa (12/2/2019). Foto: Faiz suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Joko Widodo (Jokowi) Presiden hadir dan membuka acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan di Depok, Jawa Barat.

Acara yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) ini dihadiri seluruh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan seluruh Indonesia.

Setelah Muhadjir Effendy Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan laporan kegiatan, selanjutnya Jokowi berpidato sekaligus membuka acara.

Jokowi mengawali pidatonya dengan menyampaikan apa yang sudah ia lakukan yakni membangun infrastruktur.


"Sebelum masuk ke urusan pendidikan, saya ingin bercerita mengenai infrastruktur. Boleh ya," ujar Jokowi di Pusdiklat Pegawai Kemendikbud, Jalan Raya Ciputat, Parung, Depok, Jawa Barat, Selasa (12/2/2019).

Presiden mengatakan kalau 4.5 tahun ini Pemerintah fokus konsentrasi pembangunan infrastruktur dengan alasan karena daya saing Indonesia rendah.

"Bandingkan biaya transportasi kita dengan Malaysia dan Singapura, 2-2,5 kali lipat lebih mahal di kita. Karena jalan nggak baik airport kurang, pelabuhan nggak siap menyebabkan kalah bersaing," jelasnya.

Produktivitas Indonesia, kata Jokowi, kalah dengan Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina maupun Thailand. Presiden juga menegaskan tidak mau kalah dengan Laos maupun Kamboja.

Produktivitas kita, saya ngomong apa adanya. Investasi dan ekspor kalah dengan Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Empat tahun yang lalu saya tidak mau kita kalah nanti dengan Kamboja dan Laos. mau apa kita. Oleh sebab itu, inilah sebuah pondasi dan syarat negara untuk bisa bersaing yaitu infrastruktur dulu yang kita benahi," kata dia.

"Tahun 78 kita membangun tol Jagorawi. Malaysia lihat jalan tol kita. Thailand lihat kita manajemen konstruksi seperti apa. Tahun 78 mereka lihat kita semua, tapi begitu sudah 40 tahun kita baru bisa bangun 780 km jalan tol. Dengan Cina sekarang 280 ribu km, kita 780 km,belum ada seribu lho. Inilah ketertinggalan kita yang mau tidak mau inilah yang kita hadapi," imbuhnya.

Dalam pidatonya, Jokowi juga memutar video kondisi jalan di Papua yakni Merauke ke Bovendigul sebelum dan sesudah dibangun. Sebelum dibangun jalan tersebut masih jelek apalagi kalau habis hujan.

"Coba kta bandingkan, jalan yang ada di Jawa-Sumatera dengan di Papua. Coba kita lihat jalan dari merauke ke Bovendigul biar ingat saya akan perlihatkan fakta. Inilah yang akhir tahun kemarin saya cek saya lihat sudah mulus," tegas Jokowi.

Di sela-sela pidatonya, Jokowi sempat memanggil perwakilan dari kepala dinas pendidikan masing-masing Desi dari Kabupaten Sabang dan Mathias dari Kabupaten Bovendigul.

Kemudian Jokowi bertanya soal jalan dari Merauke ke Bovendigul kepada Mathias yang dibilang Jokowi sudah mulus ternyata dijawab Mathias belum mulus.

"Lewat darat delapan jam," kata Mathias.

"Tapi sudah mulus kan?" tanya Jokowi, yang kemudian dijawab "Belum" oleh Mathias.

Kedua kepala dinas tersebut pada intinya menyampaikan ke Presiden kalau daerah mereka kekurangan guru.

Sebelum keduanya turun, Jokowi mengatakan tidak‎ bisa memberi sepeda. Sebagai gantinya, mereka diberikan foto saat di podium bersama Presiden sebagai kenang-kenangan.

Mengakhiri pidatonya, Jokowi mengatakan kalau Indonesia sekarang ini berhadapan pada persaingan antar negara yang ketat. Kuncinya, kata Presiden, ada di Sumber Daya Manusia (SDM).(faz/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.