KELANA KOTA

Terjebak Order Fiktif, Driver-Driver Ini Dihukum Baca Pancasila Sampai Al-Fatihah di Depan Grahadi

Laporan Denza Perdana | Selasa, 19 Maret 2019 | 16:43 WIB
Azis, Tri Susanto, dan Edwin Darto, tiga orang driver ojek online yang terjebak order fiktif, diminta naik ke mobil komando, di depan Gedung Negara Grahadi, Selasa (19/3/2019). Edwin Darto diminta menyanyikan Indonesia Raya, Azis diminta membaca Ayat Kursi. Sementara Tri Susanto yang diminta membaca Al-Fatihah, juga diminta membaca Pancasila karena bacaannya dianggap kurang jelas. Foto: Denza suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Sejumlah pengunjuk rasa dari Front Driver Online Tolak Aplikator Nakal (Frontal) di depan Gedung Negara Grahadi ramai-ramai menghukum driver-driver yang masih online menerima order, Selasa (19/3/2019).

Ada beberapa orang driver yang ditangkap karena terjebak order fiktif yang dilakukan para pengunjuk rasa. Beberapa di antaranya datang karena menerima order penumpang, ada salah satu yang bahkan mengantarkan makanan.

Ada tiga orang driver ojek online. Azis, Tri Susanto, dan Edwin Darto, yang tertangkap menerima order penumpang, yang diduga dilakukan oleh para pengunjuk rasa. Ketiganya lantas diminta naik ke mobil komando.

Alasan ketiganya bervariasi. Azis mengakui, dia sudah tahu ada informasi aksi unjuk rasa yang dilakukan di Surabaya, tapi tidak tahu kalau aksi itu sekarang berlangsung di Gedung Negara Grahadi. Azis tetap mengambil order fiktif itu lalu tertangkap.


Sementara Tri Susanto mengaku sama sekali tidak tahu ada aksi unjuk rasa ini. Pria yang mengaku tinggal di Semampir ini mengaku tidak gabung di grup WhatsApp driver lainnya. Sama halnya dengan Edwin, dia tidak gabung di grup, tapi dia tahu ada aksi ini.

Ketiganya lantas dihukum. Edwin Darto diminta menyanyikan Indonesia Raya, Azis diminta membaca Ayat Kursi. Sementara Tri Susanto yang diminta membaca Al-Fatihah, juga diminta membaca Pancasila karena bacaannya dianggap kurang jelas.

Saat membaca Pancasila, Tri Susanto pun tidak hafal. Koordinator lantas memintanya untuk meminta maaf saja kepada rekan-rekan driver lainnya. Tapi Tri yang tampak malu tidak bersuara ketika diminta meminta maaf.

"Ya sudah, ya sudah, turun saja. Sudah tidak berguna di atas ini," kata salah satu koordinator di atas mobil komando.

Ada salah satu driver lain, yang tidak jelas saat menyebutkan nama dengan pengeras suara. Dia ditangkap ketika mengantarkan salah satu jenis makanan cepat saji ternama ke Gedung Negara Grahadi.

Pria ini diminta membaca Pancasila, tapi sama halnya dengan Tri Susanto, dia tidak hafal lima sila Pancasila sehingga menjadi bahan tertawaan driver lainnya. "Waduh, rusak negara ini, Pancasila saja tidak hafal," kata koordinator aksi yang memintanya membaca Pancasila.

Perlu diketahui, selain sweeping, sejak kemarin memang tersebar kabar bahwa para driver online yang berunjuk rasa ini juga akan melakukan Gerakan Order Fiktif bagi driver yang masih online, menerima order penumpang maupun makanan.

Ajakan untuk aksi ini memang sudah diserukan oleh Frontal sejak kemarin. Mereka meminta semua driver di Surabaya mematikan aplikasi masing-masing atau istilahnya offbid sebagai bentuk solidaritas aksi.(den/iss/ipg)

Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.