KELANA KOTA

Curah Hujan Tinggi, BMKG Ingatkan Waspada Banjir Susulan di Sentani

Laporan Dwi Yuli Handayani | Jumat, 22 Maret 2019 | 11:51 WIB
Pembangunan jembatan darurat oleh Baznas Tanggap Bencana (BTB) untuk korban banjir Bandang di Sentani, Papua, dibangun pada Kamis (21/3/2019). Foto: Baznas
suarasurabaya.net - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan untuk mewaspadai potensi banjir bandang susulan di Sentani Kabupaten Jayapura Provinsi Papua karena curah hujan yang masih tinggi.

"Dalam kurun waktu lima sampai tujuh hari ke depan hujan masih akan mengguyur Jayapura dengan intensitas sedang hingga lebat dari malam hingga dini hari. Kami imbau masyarakat untuk tetap waspada dengan kondisi cuaca tersebut," kata Dwikorita Karnawati Kepala BMKG dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (22/3/2019).

Potensi tersebut dengan memperhatikan adanya pengaruh kondisi lokal dan adanya pertemuan aliran udara yang terjadi akibat sistem pola tekanan rendah di utara Papua.

"Kondisi tersebut dapat berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan awan dan hujan di wilayah Jayapura," katanya, seperti dilansir Antara.

Selain itu, perlu diwaspadai pula pola pertemuan aliran udara dan pertumbuhan awan di Papua bagian selatan, sebagai dampak adanya pengaruh siklon tropis Trevor, yang saat ini masih berada di Teluk Carpentaria, di sebelah selatan Papua.

Dengan adanya beberapa fenomena di atas, maka lima hari hingga seminggu ke depan curah hujan diprediksi masih cukup tinggi di Papua.

Disamping Siklon Tropis Trevor, kata Dwikorita, di selatan Nusa Tenggara Timur juga sedang muncul Siklon Tropis Veronica. Meskipun jaraknya sekitar 600 kilometer dari pantai NTT, dapat berdampak pada pertumbuhan awan hujan yang signifikan di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT serta ketinggian gelombang laut yang mencapai 4 - 6 meter si perairan selatan Jawa hingga NTT.

Menurut dia, ada sejumlah tanda yang bisa menjadi alarm peringatan dini saat terjadinya banjir bandang. Diantaranya, air sungai yang tiba-tiba berwarna keruh atau mengalir bersama lumpur, pasir, serta ranting dan batang kayu.

"Selain waspada banjir bandang, masyarakat juga harus waspada terhadap ancaman tanah longsor dan angin kencang. Terjadinya perubahan lahan di lereng dan kaki Gunungan Cyclop secara tidak terkendali, semakin memperparah kejadian banjir bandang. Hal tersebut dikhawatirkan mengakibatkan makin berkurangnya vegetasi yag menahan aliran air dari atas. Meski di hilir tidak hujan, hujan di hulu ditambah kondisi lereng yang rapuh tentu menjadi pemicu longsoran," tuturnya.

Akibat banjir tersebut, sebanyak 109 orang dinyatakan meninggal dunia. Sementara korban hilang mencapai 93 jiwa, luka ringan 808 jiwa, luka berat 107 jiwa, dan terdapat kurang lebih 11.725 kepala keluarga yang terdampak. (ant/dwi)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.