KELANA KOTA

Siluet Drama, Hindarkan Anak-anak Saksikan Penyiksaan Yesus

Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 19 April 2019 | 14:57 WIB
Siluet Drama dipilih agar anak-anak tidak menyaksikan langsung penyiksaan kepada Yesus, sebelum akhirnya wafat. Foto: Totok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Penampilan Siluet Drama pada kisah sengsara perjalanan Yesus dalam Jalan Salib oleh Mudika Gereja Katolik St. Vincentius A Paulo Jl. Widodaren Surabaya, Jumat (19/4/2019) tidak tanpa alasan. Siluet Drama dipilih untuk menghindarkan anak-anak melihat langsung peristiwa penyiksaan Yesus.

"Karena seperti ditulis dalam Kitab Suci, bahwa Yesus sebelum wafat mengalami penyiksaan secara fisik sangat luar biasa. Dan itu menjadi pertimbangan bagi kami semua untuk tidak menampilkan secara langsung, agar anak-anak yang masih dibawah umur tidak melihat secara langsung," terang Romo Sapta Widada CM, Romo Paroki Gereja Katolik St Vincentius A Paulo.

Lebih lanjut Romo Sapta menyampaikan bahwa penyiksaan yang dialami Yesus saat membawa dan memikul sendiri kayu salibnya memang sangat luar biasa. Ketika itu divisualkan, maka yang muncul dapat dipastikan adalah tindak kekerasan.

"Seperti yang kita lihat bersama, pelaksanaan Jalan Salib hari ini tidak hanya dihadiri bapak-bapak dan ibu-ibu saja, tapi ada banyak remaja dan anak-anak yang juga hadir mengikuti jalan salib. Kita hindarkan anak-anak menyaksikan langsung aksi kekerasan para prajurit Romawi itu kepada Yesus, meskipun itu hanya sekedar visualisasi," tambah Romo Sapta.


Oleh karena itu, penampilan siluet drama sejak awal memang menampilkan aksi para pemain melalui layar kain yang diterangi lampu sorot seperti layaknya penampilan seni Wayang Kulit yang dapat dinikmati dari balik layar.

Pada puncaknya, saat Yesus sudah di salibkan, layar diturunkan. Yesus kemudian wafat dan diturunkan dari Kayu Salib, dan pada saat itu seluruh umat yang mengikuti Jalan Salib melihat langsung sosok Yesus yang disalibkan.

"Seluruh pementasan kisah sengsara Yesus sudah ditampilkan dan cukup menarik. Termasuk pada bagian akhir, ketika Yesus sudah disalibkan dan wafat, maka layar yang dipakai untuk menghadirkan siluet drama, diturunkan. Ini kreativitas Mudika yang patut diacungi jempol," pungkas Romo Sapta.

Masih dari rangkaian Paskah, Jumat (19/4/2019) umat Katolik diwilayah Paroki St. Vincentius A Paulo menggelar Jalan Salib. Saat pelaksanaan Jalan Salib ditampilkan visualisasi kisah sengsara Yesus memikul salibnya sendiri sebelum akhirnya wafat, dan visualisasi ditampilkan dengan siluet drama.(tok/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.